Selasa, 20 September 2022

MA'RIFATULLAH: PUNCAK ILMU AGAMA, SAINS DAN SOSIAL HUMANIORA



"Dengan zikir yang berpadu dengan pikir dalam aktifitas keilmuan, maka setiap ilmuan Muslim tidak saja memperoleh ilmu atau pengetahuan saintifik tentang berbagai objek, tapi ia juga memperoleh pengetahuan supra sains (pengetahuan 'irfani= ma'rifatullah) dari objek kajian, perenungan atau penelitiannya."

*****


Al-Quran memberi petunjuk bahwa puncak semua ilmu pengetahuan  bagi setiap Muslim, apakah ilmuan agama, sains, dan sosial-humaniora adalah ma'rifatullah, yaitu pengetahuan sufistik-intuitif tentang Allah. Pengetahuan ini diperoleh melalui pemaduan zikir dan pikir dalam kerja keilmuan (amal saleh keilmuan). Simpulan ini diambil dari ayat Al-Qur'an yang menjelaskan bahwa ujung dari tafakkur (perenungan, pemikiran, pengkajian) seorang ilmuan beriman tentang alam semesta adalah kesadaran spiritual yang dalam, yang pada surat Ali Imran ayat 191 dinyatakan dengan ungkapan doa: "Ya Tuhan kami,  tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka." Tentang ini mari baca dengan saksama ayat Al-Quran surat Ali Imran ayat 190-191 berikut:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ 

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi ulul albab (orang yang berakal)"

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka."

Mari fokus kepada istilah ulul albab. Ulul albab adalah orang yang memiliki akal murni (al-'aql al-khalish) yang sudah mampu menangkap makna 'irfani dari ayat qauliyah/ilahiyah, insaniyah dan kauniyah. Dalam ayat di atas, ulul albab adalah ilmuan yang mengingat Allah (berzikir) dalam situasi dan kondisi apa pun sembari berpikir (merenungkan, mengkaji, meneliti) ciptaan Allah. Jadi ia memadukan zikir dan fikir dalam aktifitas keilmuannya (amal shalih keilmuan).

Zikir atau zikrullah artinya mengingat Allah. Secara praktis, aktifitas keilmuan seorang Muslim selalu dimulai dari bismillah (iqra' bismi rabbik= bacalah dengan menyebut nama Tuhan-mu). Hal ini bermakna bahwa dalam memulai aktifitas keilmuan, apakah menyampaikan pengetahuan, meneliti, berdiskusi, dan sebagainya, selalu diawali dengan penyerahan diri kepada Allah sembari berharap rahman dan rahim (kasih dan sayang) Allah dengan cara menyebutkan lafaz Bismillahirrahmanirrahim. Selanjutnya, sebagai kelanjutan dari spirit/jalan spiritual bismillah tadi, maka sepanjang aktifitas keilmuan, hatinya senantiasa mengingat Allah bersamaan dengan lisannya yang by nature menyebut sering menyebut Allah. Sebutannya dapat berupa tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), takbir (allahu akbar), hauqalah (la haula wala quwwata illa billah) dan atau lafaz zikir lainnya. Zikir-zikir pendek seperti ini biasanya akan terucap saja secara natural, terutama ketika ia merasakan dan menyaksikan penomena dan atau temuan-temuan menarik selama berjalannya aktifitas kerja keilmuan. Simpul-simpul pokok semua zikir pendek ini adalah shalat lima waktu yang diamalkan secara konsisten oleh setiap ilmuan Muslim beriman.

Melalui zikir yang berpadu dengan pikir dalam proses keilmuan (amal saleh), maka setiap ilmuan Muslim tidak saja memperoleh ilmu atau pengetahuan saintifik tentang berbagai objek, tapi ia juga memperoleh pengetahuan supra sains (pengetahuan 'irfani= ma'rifatullah) dari objek kajian, perenungan atau penelitiannya. Pengetahuan 'irfani ini berada di atas sains. Jenis pengetahuan ini bukan lagi rasional-empirik atau filosofis, tapi sufistik-intuitif.

Mari lihat kembali ayat di atas. Seorang ulul albab yang mengkaji  dan atau meneliti alam semesta (ayat kauniyah), akan memperoleh kesadaran ilahiyah (ketuhanan) bahwa ciptaan Allah ini sangat sempurna dan rapi, tertata dengan hukum kausalitas (sunnatullah) yang teratur. Materinya tersusun rinci dan dapat diurai hingga ke bentuk materi yang sekecil-kecilnya. Materi-materi itu saling kait dengan indahnya dan dapat direkayasa untuk  menjadi materi dengan form berbeda atau bentuk yang lebih besar, dst., dst.

Dalam kesadaran puncak terhadap ayat kauniyah inilah seorang ilmuan Muslim berucap doa:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ

"Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka."

Dalam doa ini, setelah ia menyatakan kesadarannya tentang kesempurnaan ciptaan Allah (ربنا ماخلقت هذا باطلا), ia pun kemudian bertasbih,  "Subhanaka", Maha Suci Engkau. Pemahaman tentang tasbih di sini kurang lebih seperti ini: Maha Suci Engkau ya Rabb dari pandangan-pandangan yang merendahkan-Mu dan menafikan Kekuasaan-Mu dalam semua ciptaan-Mu. Juga Maha Suci Engkau dari pandangan ateisme saintis Barat yang menafikan wujud Mu. Ya Rabbana, lindungi kami dari siksa Neraka.

Kesadaran Ilahiyah demikian ini adalah ilmu yang sangat berharga yang jauh di atas sains, masuk sebagai hidayah ke dalam lubuk hati (lub, jamaknya albab) seorang ilmuan Muslim. Ini adalah nur (cahaya) dari Allah yang mencahayai jiwanya. Cahaya seperti ini hanya diberikan kepada ilmuan yang ikhlas mencari dan mempelajari tanda-tanda Kemahabesaran Allah pada setiap objek yang dikajinya. Inilah yang disebut ma'rifatullah, puncak ilmu pengetahuan yang diperoleh para ulul albabAllahu a'lam bi al-shawwab.

Gambar:
Hutan hijau pinggir jalan Aek Sijornih, Tapanuli Selatan, 17 September 2022.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar