Jumat, 25 September 2020

INTEGRASI ILMU: ILMU ITU NUR (CAHAYA) ALLAH

 


Ungkapan “ilmu itu cahaya” (al-‘ilmu nur) adalah ungkapan yang populer dari Imam Asy-Syafi’i. Selengkapnya beliau berkata, “Al-‘ilmu nurun, wa nurullahi la yuhda lil ‘ashi”. Artinya ilmu itu cahahaya, dan cahaya Allah itu tidak diberikan kepada pemaksiat/pendosa.

Dalam Al-Qur`an surat An-Nahal ayat 78 disebutkan bahwa ketika manusia lahir, manusia tidak mengetahui suatu objek apa pun. Tapi kemudian, Allah menjadikan bagi manusia pendengaran, penglihatan dan fu`ad (hati nurani). Dengan alat indera luar dan dalam itu, manusia menyerap ilmu pengetahuan. Begitu pun, alat-alat indera ini baru mampu menyerap pengetahuan setelah Allah SWT memberinya suatu kemampuan  (al-quwwah) untuk menyerap. Jika tidak, maka alat indera (luar dan dalam) dimaksud tentu tidak dapat bekerja dalam menyerap pengetahuan apa pun. Buktinya, tidak sedikit orang yang tuli, lalu dengan ketulian itu maka ia tidak dapat menyerap ilmu melalui pendengaran.

Pengetahuan apa yang akan diserap? Tentu saja pengetahuan tentang ayat-ayat Allah SWT. Ayat-ayat Allah itu secara garis besar dapat diklasifikasi ke dalam dua bagian yaitu ayat-ayat qauliyah (atau tanziliyah) dan ayat-ayat kauniyah. Ayat qauliyah artinya ayat berupa kalam atau firman Allah, sementara ayat kauniyah yaitu ayat berupa ciptaan Allah yakni alam dan manusia. Al-Qur`an berkali-kali menjelaskan bahwa firman suci, manusia dan alam semesta serta berbagai penomenanya adalah ayat Allah. Dalam perspektif paradigma teoantropoekosentris, ayat-ayat dimaksud dibagi kepada ayat ilahiyah, ayat insaniyah dan ayat kauniyah (istilah yang digunakan adalah al-ilahiyah, al-insaniyah dan al-kauniyah).

Secara bahasa âyât (dalam bentuk jamak) bermakna tanda-tanda. Dengan demikian ayat Allah artinya tanda-tanda Allah, yakni tanda-tanda kekuasaan, kebesaran, keagungan dan kemuliaan Allah. Dengan demikian, semua objek materi ilmu pengetahuan yakni kalamullah, manusia dan alam adalah ayat-ayat Allah. Pemahaman ontologis seperti ini mengantarkan kita kepada suatu keyakinan bahwa tidak mungkin terjadi pertentangan antara ayat qauliyah, insaniyah dan kauniyah, karena sama-sama bersumber dari Allah. Dalam bahasa lain, tidak ada pertentangan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Atau antara 'ulumud diniyah (ilmu-ilmu keagamaan) 'ulumul 'aqliyah (ilmu-ilmu rasional).

Mencari Cahaya Allah

Segala upaya kita dalam mencari dan menimba ilmu pengetahuan pada hakikatnya mencari dan menimba cahaya Allah. Melalui cahaya-Nya ini maka kita insya Allah akan tertuntun untuk sampai kepada sumber cahaya, yaitu Yang Maha Bercahaya. Oleh karena itu pencarian dalam disiplin ilmu apa pun harus mengantarkan pencarinya kepada sumber cahaya, yaitu Allah SWT.

Berdasarkan cara pandang demikian, maka setiap ilmu apa pun yang dipelajarari, apakah ilmu-ilmu kealaman, ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu humaniora, dan terlebih ilmu-ilmu agama, mesti mengantarkan pembelajarnya kepada cahaya iman dan takwa kepada Allah SWT. Jika terjadi sebaliknya, yakni semakin jauh dari Allah, maka hal ini berarti ada yang salah dengan cara  kita dalam melihat objek-objek ilmu yang telah dibentangkan oleh Allah SWT.***  

___________________________________

Gambar: Wisata Halal Bonjol-Pasaman 06/09/2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar