Kamis, 19 Januari 2023

TAUSIYAH TEOANTROPOEKOSENTRIS (ILAHIYAH-INSANIYAH-KAUNIYAH PARADIGM) KEPADA INSAN PELAKSANA KEGIATAN DAN ANGGARAN T.A. 2023


"...dapatlah disimpulkan bahwa "penghambaan" adalah orientasi pokok hidup Muslim. "Penghambaan" adalah jaminan keberadaan manusia di muka bumi ini. Hal ini bermakna, jika manusia tidak bereksistensi melakukan "penghambaan", maka keberadaan eksistensialnya tidak lagi terjamin di sisi Allah."

*******


Ke Arah Mana Semua Aktifitas Hidup Seorang Muslim (dalam Konteks ini para Pelaksana Kagiatan dan Anggaran) Diorientasikan?

Semua aktifitas hidup seorang muslim mesti diorientasikan (ditujukan) untuk penghambaan (pengabdian) kepada Allah Swt. Al-Quran surat Adz-Dzariyat/51 ayat 56 menegaskan hal ini:*

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)


Agar aktualisasi dan realisasi penghambaan (pengabdian) ini terarah dengan benar, maka Allah Swt merentangkan jalan kepatuhan (ad-din, agama). Setiap muslim dituntut menghamba kepada Allah dengan ikhlas dan lurus (hanif) di atas jalan kepatuhan (agama) ini. (QS Al-Bayyinah/98: 5). Jalan kepatuhan ini bukan hal asing. Ia adalah jalan lurus yang sesuai dengan nature penciptaan manusia.

Penting disadari bahwa 'ubudiyyah (penghambaan) pada Adz-Zariyat ayat 56 ini merupakan puncak induksi makna-makna amaliyah lain (iman, ibadah, ilmu, dan khilafah). Petunjuk dan perintah keagamaan dalam berbagai hal selalu saja dalam rangka 'ubudiyyah (penghambaan) seorang muslim kepada Allah. Mari diperhatikan misalnya petikan ayat berikut:
1. QS. Ali 'Imran 3: Ayat 102

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."

Ali Imran ayat 3 ini menitahkan supaya kaum beriman bertakwa kepada Allah sebenar-benar takwa. Dan jangan sampai mati dulu, melainkan dalam keadaan muslim. 

Muslim, secara bahasa artinya orang yang tunduk, patuh, pasrah, berserah diri. Yakni tunduk, patuh, pasrah, dan berserah diri dengan hanif kepada Allah Swt.

Kemusliman ini menjadi fundamen ketakwaan, sementara ketakwaan dalam rangka penghambaan kepada Allah Swt. 

2. QS. Ali 'Imran 3: Ayat 191
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka."

Zikrullah (mengingat Allah) pada ayat ini sesungguhnya aktualisasi penghambaan. Hal ini mempertegas bahwa penghambaan itu dilakukan dalam seluruh kondisi dan aktifitas hidup seorang muslim sepanjang hayat.

Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa "penghambaan" adalah orientasi pokok hidup Muslim. "Penghambaan" adalah jaminan keberadaan manusia di muka bumi ini. Hal ini bermakna, jika manusia tidak bereksistensi melakukan "penghambaan", maka keberadaan eksistensialnya tidak lagi terjamin di sisi Allah.

"Payung induksi" di bawah ini menegaskan bahwa 'ubudiyah (penghambaan) benar-benar puncak orientasi dan tujuan hidup muslim:


Sampai seberapa hebat "penghambaan" itu? Sampai seorang muslim mampu dan terbiasa untuk menjauhkan lambungnya dari tempat tidurnya untuk beribadah di waktu malam; Sampai seorang muslim menghabiskan malam-malamnya untuk Tuhan dengan bersujud dan berdiri ibadah; Sampai seorang muslim berdiri shalat dalam sebagian malam atau lebih lagi. (QS As-Sajadah/32: 16, Al-Furqan/25: 64, dan Al-Muzammil/73: 20). 

Penting dilihat bahwa Tuhan tidak mendefinisikan tentang "penghambaan yang hebat". Karena memang bukan definisi yang penting. Al-Qur'an, dalam hal ini justru menonjolkan karakteristik atau bentuk unjuk diri muslim yang melakukan penghambaan yang hebat.


Apakah tugas kekhalifahan sebagai realisasi penghambaan?
Jawabannya tentu saja, ya.
Status kedudukan manusia di bumi adalah Khalifah (Al-Baqarah/2: 30). Tugas khalifah adalah membangun kehidupan yang makmur, indah dan anggun (peradaban) di muka bumi. Perlu digarisbawahi bahwa realisasi tugas kekhalifahan ini dalam rangka pengabdian (penyembahan, ketundukan) kepada Allah.


Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran bentuk Aktualisasi Kekhalifahan
Jadi... Raker ini dalam kerangka aktualisasi penghambaan kepada Allah SWT. Begitu pula semua pelaksanaan kegiatan dan anggaran, mulai dari kegiatan akademik yang jadi core business kita, dan juga kegiatan non akademik seperti belanja modal (pengadaan BMN), belanja pegawai, belanja barang, belanja sosial, dll. Harus jadi tekad individual kita masing-masing bahwa setiap kegiatan yang kita kelola mesti menambah pahala buat kita di sisi Allah SWT.

Berpijak kepada nilai dasar dan pemikiran demikian inilah semestinya kita mengelola berbagai kegiatan dan anggaran di kampus. Oleh karena itu wajib bagi kita:
  1. Mengelola kegiatan dan anggaran yang berorientasi penuh pada capaian rencana jangka pendek dan menengah sebagaimana tertuang pada Rencana Strategis dan Rencana Induk Pengembangan yaitu Good University Governance and Culture (MS 2020-2024) dengan idealitas Recognized University in Governance and Culture set in Sumatera, dan capaian Automasi Tata Kelola IAIN ( baca: UIN) yang Cerdas Berintegritas di Sumatera. Praktis untuk capaian Automasi Tata Kelola ini, waktu yang tersedia tinggal dua tahun lagi.
  2. Mengelola kegiatan dan anggaran dengan penuh amanah dan integritas. Setiap satu rupiah atau bahkan lebih kecil lagi yang kita belanjakan akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Begitu pula jika ada satu rupiah kita ambil tanpa hak atau peruntukannya menyimpang dari kebutuhan pengembangan kampus maka Allah pasti akan meminta pertanggung jawaban. 
  3. Mengupayakan pengelolaan kegiatan dan anggaran dengan out put dan out come yang optimal. Dengan demikian, setiap satu rupiah yang kita belanjakan menghasilkan keluaran dan balikan yang bernilai lebih dari yang sepatutnya.
  4. Termasuk dalam hal integritas adalah mengupayakan tingkat kepatuhan kita terhadap disiplin pelaksanaan kegiatan dan anggaran yang mesti semakin baik dari tahun-tahun anggaran sebelumnya. 

Untuk Direnungkan
Setelah Allah Swt menjelaskan tentang huru hara kehancuran semesta di awal surat Al-Zalzalah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala selanjutnya berfirman:*

يَوْمَئِذٍ يَّصْدُرُ النَّا سُ اَشْتَا تًا ۙ لِّيُرَوْا اَعْمَا لَهُمْ
"Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya."

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ
"Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ
"Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 6-8)

Wallahu a'lam.


Catatan:
Ayat Al-Qur'an dikutip dari: Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com


Selengkapnya

Minggu, 15 Januari 2023

KEJANGGALAN DALAM KAJIAN FILSAFAT SEJARAH SOSIAL?



"Yang jelas, agar suatu peradaban berumur panjang, maka komunitas dalam suatu peradaban itu ---menurut konsep ilmu sosial profetik Kuntowijoyo--- mesti konsisten dalam misi dan tugas ta'muruna bil ma'ruf (humanisasi), tanhauna 'an al-munkar (liberasi), dan tu'minuna billah (transendensi= mengorientasikan hidup masyarakat kepada nilai-nilai ilahiyah)."
*******

Irwan Saleh Dalimunthe:

Postingan bang Irwan Saleh Dalimunthe yang bersumber dari:
https://www.tinewss.com/ragam-news/pr-1855376707/inilah-bukti-bahwa-sejarah-tidak-bergerak-secara-acak

Mengapa begitu banyak misteri sejarah yang tersembunyi? Jawabannya, karena menurunnya minat pada pendekatan politik dan meningkatnya pendekatan sosial dalam penulisan sejarah, yang sebenarnya merupakan bias mindset era kolonial. 

Pendekatan sosial dalam penulisan sejarah, hasil akhirnya adalah Historiografi Khusus yang dilepaskan dari faktor utama penggeraknya, sehingga narasinya memiliki karakter yang datar dan kering. Hasil akhirnya, tidak ada ruh dalam tulisannya. Hilangnya ruh dalam sebuah tulisan, sejatinya merupakan ciri utama keilmuan sekuler. 

والله اعلم


Anhar:

Subhanallah... Maha Suci Allah dari filsafat sejarah yang salah. Boleh jadi ada juga benarnya bahwa pendekatan sejarah sosial itu produk mindset poskolonial. Pendekatan ini terlepas dari ruh sejarah yg disebut "sunnatullah". 

Mari kita renungkan ayat ini:

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ ۙ فَسِيْرُوْا فِى الْاَ رْضِ فَا نْظُرُوْا كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

"Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS. Ali 'Imran/3: 137)

Ayat di bawah ini menjelaskan bahwa suatu komunitas sosial telah ditentukan ajalnya:

قُلْ لَّاۤ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰهُ ۗ لِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۗ اِذَا جَآءَ اَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَئۡخِرُوْنَ سَا عَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

"Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak kuasa menolak mudarat ataupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki." Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." (QS. Yunus 10: Ayat 49)

Secara tersirat, bisa dikatakan bahwa ada jiwa dari sejarah. Oleh karena itu, perlu pemahaman filsafat sejarah dangan berpijak kapada perenungan terhadap ayat-ayat yang di antaranya disebut di atas.

Bapak Ibu yang mulia...
Diskusi ini semakin meyakinkan bhw kita sangat butuh paradigma teoantropoekosentris, termasuk untuk ilmu sejarah.

Candra Adiputra:
Boleh di artikan begini pak:
Tiap-tiap rezim itu punya masanya. 
Tiap-tiap kerajaan ada masa jaya dan masa runtuhnya..
Tiap-tiap presiden atau pemimpin sudah di gariskan periodenya. 
Ada kerajaan/kepemimpian yang 5 tahun, 10 tahun, 100 tahun, 300 tahun, dst. 
Yang saya lihat ini berlaku juga untuk perusahaan. Seperti Nokia mengalami kejayaan era 2000-2007. 
Nah saya yakin ini era android dan iphone juga akan runtuh dan di gantikan yang lain.
Sama seperti era perusahaan foto film kodak yg sekarang sudah runtuh. Wallahu a'lam.

Anhar:

Iya, barangkali bisa begitu. Yang jelas, agar suatu peradaban berumur panjang, maka komunitas dalam suatu peradaban itu ---menurut konsep ilmu sosial profetik Kuntowijoyo--- mesti konsisten dalam misi dan tugas ta'muruna bil ma'ruf (humanisasi), tanhauna 'an al-munkar (liberasi), dan tu'minuna billah (transendensi= mengorientasikan hidup masyarakat kepada nilai-nilai ilahiyah). Filosofi sejarah seperti ini yang membuat umur suatu peradaban berumur panjang. 

----Mari kita renungkan kandungan surat Ali Imran/3: 110, yang jadi landasan Kuntowijoyo.


Gambar:

Usai pelantikan Wakil Rektor UIN Syahada Padangsidimpuan.

Selengkapnya

URGENSI PENDEKATAN HERMENEUTIKA DALAM MENGHASILKAN PEMAHAMAN AGAMA YANG NATURAL


"Ketika seorang ilmuan agama (ulama) membahas topik-topik keagamaan, sering kali ia memposisikan dirinya sebagai "penjaga gawang", "aktifis" atau sebagai orang luar (out sider) dalam mengkaji objek. Tentu saja ini hak ilmiah setiap ilmuan. Problemnya, dalam konteks kajian agama, hasil perenungan atau pemikiran ilmuan seperti ini sering tidak jenuin (natural). Dan, akibatnya pintu ke pemikiran atau pemahaman yang lebih luas dan lapang menjadi sukar didapatkan."
*******

Sering kali ketika ilmuan agama (ulama) membahas topik-topik keagamaan, ia memposisikan dirinya sebagai "penjaga gawang", "aktifis" atau sebagai orang luar (out sider) dalam melihat objek. Tentu saja ini hak ilmiah setiap ilmuan. Problemnya, dalam konteks kajian agama, seringkali hasil perenungan atau pemikiran ilmuan seperti ini tidak jenuin (natural). Dan, akibatnya pintu ke pemikiran atau pemahaman yang lebih luas dan lapang menjadi sukar didapatkan.

Oleh karena itu, ilmuan agama perlu mempertimbangkan saran ahli hermeneutika agama untuk menerapkan pendekatan heremeneutika dalam pemahaman dan kajian agama. Pendekatan hermeneutika ini berupaya memahami suatu topik atau objek kajian dari perspektif dalam (inner perspective). Seorang pengkaji masuk ke dalam dunia subjek (alam kesadaran dan pikiran subjek), lalu memandang secara jernih (jenuin) suatu objek layaknya orang/tokoh yang telah memproduk suatu pemahaman (teks) yang jadi objek kajian agama dimaksud.


Contoh Penerapan dalam Memahami Zikir dan Do'a sesudah Shalat

Dalam hal berzikir dan berdoa sesudah shalat, maka pertanyaan hermeneutis tentang ini misalnya: Bagaimana Rasulullah Saw secara jenuin memandang dan memaknai zikir dan do'a sesudah shalat? 

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka seorang pengkaji harus masuk ke alam kesadaran dan pikiran subjek. Dalam hal ini, subjeknya adalah Rasulullah Saw sendiri. Bagi pengkaji yang belum terbiasa dengan pendekatan hermeneutika tentu metodologi demikian ini tampak sangat asing. Bagaimana mungkin masuk ke dalam kesadaran Nabi Saw? Para ilmuan menyadari bahwa upaya agar benar-benar masuk ke alam kesadaran  subjek untuk memahami apa yang dipikirkan subjek tidaklah mungkin tercapai secara sempurna. Apa lagi subjeknya adalah pribadi utama, Rasulullah Saw.

Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa sejak lama penerapan pendekatan hermeneutika telah terbukti dapat memperkaya perspektif pemahaman tentang kajian agama. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk masuk ke dalam alam kesadaran dan pemikiran subjek terkait zikir dan doa ini, antara lain:
  1. Membebaskan pikiran dari keterikatan terhadap berbagai pemikiran, konsep dan kategori tentang zikir dan do'a yang telah terlembagakan dalam pemahaman dan pemikiran kaum muslimin (ortodoksi), terutama pemahaman mazhab-mazhab fiqh. Konsep yang telah terlambagakan itu misalnya konsep zikir, do'a, syarat doa, juz'iyatnya, kaifiatnya, dllsb. 
  2. Memahami konsepsi dan makna zikir dan do'a dalam pusaran ajaran Al-Quran tentang zikir dan do'a.
  3. Memahami konsepsi zikir dan doa dalam konteks penyampaian Rasulullah pada masa itu. Dalam hal ini amat penting untuk memahami konteks sosio-historis ketika Nabi Saw mengajarkan atau mengamalkan (mempraktikkan) zikir atau doa dimaksud.
  4. Memahami secara mendalam bagaimana Rasulullah Saw mengamalkannya. Beliau berzikir dan berdo'a dengan tadharru' (rendah hati), khufyah (lemah-lembut), khauf (rasa takut), thama' (penuh harap), duna al-jahri min al-qaul (lirih), dan sering menangis saat munajat, dllsb.
  5. Memahami bagaimana para sahabat menindaklanjuti pengajaran zikir dan do'a dalam pengamalan.
Tidak kalah pentingnya --setelah 5 poin di atas-- lanjutannya (ke-6) yaitu eksperimentasi pengamalan seorang pengkaji yang tulus-ikhlas, khusyuk dan penuh kesungguhan terhadap pengajaran zikir dan do'a Rasulullah Saw. Eksperimentasi ini tentu saja akan turut mempengaruhi konsepsi hermeneutik seorang pengkaji zikir dan do'a. Sehingga konsepsi yang dihasilkan metode hermeneutik akan menukik hingga ke kedalaman lubuk pengetahuan 'irfani (pengetahuan ruhaniah).

Setelah 6 tahapan di atas dilalui, maka diskusi/kajian dapatlah turun ke tahap kajian fiqih yang rasional (bayani dan burhani). Hemat penulis, metodologi seperti ini akan lebih menghasilkan pandangan yang genuin (natural) tentang zikir dan do'a. Khususnya tentang do'a sesudah shalat. Allahu a'lam.

Gambar:
Blok A Perm. Sidimpuan Indah Lestari, Palopat PK, Padang Sidempuan, Sumut 15 Januari 2023.



Selengkapnya

Selasa, 10 Januari 2023

TASBIH DALAM SHALAT HARUS BERHASIL MENDIDIK ORANG YANG SHALAT BERTAUHID YANG IKHLAS


Perlu diingat bahwa jika perintang-perintang tasbih ini berhasil disingkirkan maka seorang mushalliy akan mendapatkan dua hal: Pertama, Allah akan mempertajam bashirah (mata batin)-nya dalam mempersepsi Kemahasucian Allah. Kedua, ia akan merasakan ketenangan dan kedamaian batin saat mempersepsi dan meresapi makna tasbih.
*******

Penulis pernah menjelaskan di blog ini bahwa dalam satu putaran shalat lima waktu, seorang mushalliy (orang yang shalat) bertasbih setidaknya sebanyak 53 kali. Perhitungannya sebagai berikut: Setiap 1 rakaat, seorang mushalliy bertasbih 3 kali, yaitu masing-masing 1 kali saat rukuk, saat sujud pertama dan saat sujud kedua. Dengan demikian dalam 17 rakaat, total tasbih yang dibaca sebanyak 53 kali.

Jumlah ini akan lebih besar lagi jika seorang mushalliy membaca lafaz tasbih dimaksud masing-masing 3 kali ketika rukuk, sujud pertama dan sujud kedua. Dengan cara terakhir ini total tasbih akan mencapai 159 kali dalam satu putaran shalat lima waktu.

Di antara bacaan zikir dalam shalat yang mengandung tasbih dimaksud sebagai berikut:

سبحان ربي العظيم وبحمده

سبحان ربي الاعلى وبحمده

atau:

سبحانك اللهم ربنا وبحمدك اللهم اغفرلي

Artinya:

Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung dan segala puji baginya.

Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi dan segala puji baginya.

Maha Suci Engka, ya Allah Tuhan kami dan segala puji bagi-Mu. Ya Allah, ampuni aku.


Disyariatkannya mengulang-ulang tasbih dalam shalat tentu saja memiliki tujuan ruhaniah yang mulia, yaitu Allah hendak mendidik seorang mushalliy agar mencapai tauhid yang ikhlas. Tauhid yang ikhlas adalah pemahaman dan keyakinan tauhid bahwa hanya Allah yang disembah, hanya Allah Maha Pencipta dan Maha Pengatur, hanya kepada Allah meminta pertolongan, dan hanya kepada Allah menggantungkan diri. Sebaliknya, seorang mukmin menolak penuhanan apa pun selain Allah. Ia, dengan segenap jiwa dan raganya, hanya mempertuhankan Allah semata.

Untuk sampai kepada tauhid yang ikhlas (murni), maka seorang mushalliy harus membersihkan jalan ruhaniahnya dari perintang-perintang tasbih. Perlu diingat bahwa jika perintang-perintang tasbih ini berhasil disingkirkan maka seorang mushalliy akan mendapatkan dua hal:

Pertama, Allah akan mempertajam bashirah (mata batin)-nya dalam mempersepsi Kemahasucian Allah. Kedua, ia akan merasakan ketenangan dan kedamaian batin saat mempersepsi dan meresapi makna tasbih.


Perintang Tasbih

Perintang tasbih itu antara lain:

  1. Perilaku syirik (angkuh dan sombong, meyakini kekuatan ghaib yang memberi perlindungan dan keselamatan selain Allah, menuhankan selain Allah, dsb.)
  2. Perilaku tercela (akhlak madzmumah), seperti kizb (dusta), ghibah (gunjing), namimah (fitnah, adu domba), curang, culas, mengambil bukan hak (mencuri, korupsi, mark up anggaran, dll.)
  3. Lalai dalam shalat (lebih banyak mengingat selain Allah)

Jika perintang tasbih ini berhasil disingkirkan, maka Allah akan semakin dekat kepada hamba-Nya. Kedekatan ini akan dapat terjadi sampai seorang hamba dekat kepada Allah sedekat-dekatnya. Ketika Allah mendekat dan semakin dekat kepada seorang hamba yang dicintai-Nya, maka Allah pun membuka pintu kasyf (penyingkapan spiritual) sehingga hamba ini pun memperoleh ilmu 'irfani dan kelezatan kontak ruhaniah dengan Allah Swt. 


Jalan ruhaniah Tasbih

Jalan ruhaniah tasbih itu dapat digambarkan sebagai berikut:

Melafazkan tasbih---> memahami maknanya---> memperoleh persepsi ruhaniah    ---> merasakan ketenangan hati---> berlabuhnya pengetahuan 'irfani

Syarat yang harus dipelihara dalam pencapaian makna tasbih yaitu:

  1. Mushalliy bertobat kepada Allah.
  2. Mushalliy mengondisikan hatinya agar bersih dari syirik dan perilaku tercela. 
  3. Mushalliy tunduk merendah dan berserah diri kepada Allah saat shalat.
  4. Mushalliy melafazkan tasbih saat rukuk, sujud pertama, dan sujud kedua dengan tadharru' (rendah hati), khufyah (lemah lembut), khauf (rasa takut), thama' (penuh harap), dan dunal jahri minal qaul (lirih).
Wallahu a'lam bi al-shawwab.

Gambar:
Kualanamu International Air Port, 29 Desember 2023.

Selengkapnya

Sabtu, 07 Januari 2023

KEHARUSAN MEMAHAMI ASPEK IRFANI DALAM IBADAH SHALAT



"Dalam penerapannya, mushalliy (orang yang shalat) mesti menghadirkan hati (bi hudhur al-qalbi). Cara menghadirkan hati yaitu dengan menyadari, merasakan dan menghayati makna yang diucapkan. Jika cara ini dibiasakan terus-menerus, maka bashirah (penglihatan mata hati) seorang mushalli semakin tajam. Dan, Allah SWT pun semakin membuka penyingkapan rahasia-rahasia Ilahiyah kepada hamba yang berupaya khusyuk dalam shalatnya. Penyingkapan itu dimulai dari paling samar (masih gelap) hingga menuju terang benderang."
*******

Allah Swt mengingatkan agar orang-orang beriman jangan mendekati shalat (jama'ah shalat atau melakukan shalat) jika dalam keadaan mabuk, hingga mereka mengerti apa yang mereka ucapkan (lihat QS An-Nisa' 4: 43). Kalimat dalam ayat: hatta ta'lamu ma taqulun. Mengerti yang diucapkan di sini tentu saja maksudnya memahami makna lafaz-lafaz shalat yang dibaca. Pertanyaannya, apakah memahami makna di sini hanya pemahaman harfiah (tekstual)? Tentu saja tidak demikian. Para ulama menegaskan bahwa maksud mengerti/paham di sini mesti sampai kepada pemahaman makna hakikat atau makna 'irfani.

Perlu direnungkan bahwa lafaz-lafaz yang dibaca dalam shalat itu bukanlah lafaz-lafaz biasa. Lafaz-lafaz itu adalah istimewa dan pilihan. Disebut demikian karena lafaz-lafaznya itu  Allah SWT sendiri yang mengajarkannya kepada Rasulullah. Lafaz bacaan shalat itu dibaca pada posisi-posisi gerakan yang ditentukan dalam shalat. Tidak tanggung-tanggung, ibadah shalat ini juga dinyatakan dalam hadits sebagai tiang agama ('imaduddin), pembeda antara muslim dan kafir, amal yang pertama dihisab, zikir paling utama, dan penentu (tolok ukur) bagi amal-amal lain. Lebih dari itu, Allah Swt menegaskan bahwa shalat mencegah kaum beriman dari perbuatan keji dan munkar.

Dari penjelasan ini saja dapat dipahami bahwa ibadah shalat ini adalah ibadah istimewa, sehingga memerlukan kesungguhan dan kesabaran dalam melakukan dan menjaga konsistensinya. Termasuk dalam hal memahami makna-maknanya hingga ke makna yang terdalam. 


Pemahaman 'Irfani terhadap Shalat

Pendekatan 'irfani merupakan istinbath al-ma'arif al-qalbiyyah dari Al-Quran. Pendekatan ini bertumpu pada instrumen pengalaman batin, dzawq, qalb, wijdan, bashirah, dan instuisi. Metode yang digunakan meliputi manhaj kasyfi dan manhaj iktisyafi. Manhaj kasyfi disebut juga manhaj ma'rifah 'irfani yang tidak menggunakan indera atau akal, tetapi kasyf dengan riyadhah dan mujahadah. Manhaj iktisyafi disebut juga al-mumatsilah (analogi), yaitu metode untuk menyingkap dan menemukan rahasia pengetahuan melalui analogi-analogi.1]

Al-Quran memberi bimbingan dan tuntunan agar seorang mukmin mendapatkan pengalaman batin atau dzawq dari ibadah Shalat. Pengalaman batin/dzawq ini selanjutnya akan terekam menjadi pengetahuan 'irfani tentang shalat. Bumbingan ini dapat dipetik misalnya dari surat An-Nisa' ayat 43; Al-A'raf ayat 55, 56, dan 205. Berikut secara berturut ayat-ayat dimaksud:*

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَ نْـتُمْ سُكَا رٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ 
"Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati sholat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, ..." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 43)

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ 
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 55)

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَ رْضِ بَعْدَ اِصْلَا حِهَا وَا دْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًا ۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 56)

وَا ذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَـهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِا لْغُدُوِّ وَا لْاٰ صَا لِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ
"Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 205)

Ayat-ayat di atas ---secara epistemologis--- menuntunkan tentang metodologi 'irfani untuk mendapatkan pengalaman batiniah dalam shalat, yaitu:
  1. Memahami makna bacaan shalat.
  2. Bersikap tadharru' (rendah hati)
  3. Bersikap khufyah (lemah lembut)
  4. Bersikap khauf (rasa takut)
  5. Bersikap thama' (penuh harap)
  6. Berucap zikir/doa dengan lirih (dunal jahri minal qaul)
Dalam penerapannya, mushalliy (orang yang shalat) mesti menghadirkan hati (bi hudhur al-qalbi). Cara menghadirkan hati yaitu dengan menyadari, merasakan dan menghayati makna yang diucapkan. Jika cara ini dibiasakan terus-menerus, maka bashirah (penglihatan mata hati) seorang mushalli semakin tajam. Dan, Allah SWT pun semakin membuka penyingkapan rahasia-rahasia Ilahiyah kepada hamba yang berupaya khusyuk dalam shalatnya. Penyingkapan itu dimulai dari paling samar (masih gelap) hingga menuju terang benderang. Nur Allah itu bagi hamba yang baru bertobat ibarat cahaya yang tertutup kaca dengan noda tebal. Jika seorang hamba semakin membersihkan hatinya dan mengisinya dengan energi zikir, maka noda-noda tebal itu semakin berguguran, hingga akhirnya tidak ada satu titik noda pun yang menghalangi pandangannya kepada sumber cahaya.


Buahnya
Lalu ---secara aksiologis--- apa buah dari shalat dengan penghayatan 'irfani ini?
Buahnya yaitu dekat kepada Allah. Dengan kedekatan ini hati seorang mukmin peka terhadap zikrullah, sehingga ketika nama Allah disebut dihadapannya, hatinya bergetar. Dan  jika ayat-ayat Allah diperdengarkan kepadanya, imannya makin kuat. Di tengah malam, ia menyungkur sujud dan bertasbih untuk memuji Allah. Dan lagi, dalam menjalani hidup, ia tawakkal kepada Allah dan rendah hati kepada sesama manusia. Di akhirat, Allah Swt menyediakan bermacam-macam nikmat yang tidak terbayangkan oleh manusia.

Mari baca ayat berikut ini:
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:*

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِ ذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَا دَتْهُمْ اِيْمَا نًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ 
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,"
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 2)

اِنَّمَا يُؤْمِنُ بِاٰ يٰتِنَا الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِهَا خَرُّوْا سُجَّدًا وَّسَبَّحُوْا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ
"Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, dan mereka tidak menyombongkan diri."
(QS. As-Sajdah 32: Ayat 15)

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّاۤ اُخْفِيَ لَهُمْ مِّنْ قُرَّةِ اَعْيُنٍ ۚ جَزَآءً بِۢمَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ
"Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan."
(QS. As-Sajdah 32: Ayat 17)


Catatan:
1] PP Muhammadiyah, Risalah Manhaj Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam, 2000, h. 19.
* Ayat-ayat Al-Quran dan terjemahnya diambil dari Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com

Gambar:
Jalan Raya T. Rizal Nurdin, Palopat PK, Padang Sidempuan, Sumut. Foto diambil jelang Maghrib 05 Januari 2023.



Selengkapnya

Rabu, 04 Januari 2023

SERI TEOANTROPOEKOSENTRIS: AYAT INSANIYAH DALAM ILMU BAHASA



Hukum kerapian sistem analisis deduksi, induksi, dan abduksi dalam bahasa ini adalah ayat-ayat Allah yang harus kita imani. Tidak ada satu pun makhluk yang sanggup membuat sistem mental yang sangat rapi ini. "Rabbana ma khalaqta hadza bathila. Subhanaka, faqina 'adzabannar." (Waha Tuhan kami, Engkau tidaklah menciptakan hal ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau (dari persangkaan mereka yang tidak pantas). Jagalah kami dari azab neraka). (QS Ali Imran/3 ayat 191).

*******

Dalam perspektif teoantrpoekosentris, adakah ayat-ayat Allah (tanda-tanda/simbol Kemahabesaran Allah) dalam Ilmu Bahasa? Jelas sekali ada, karena bahasa adalah kelompok ilmu humaniora (the humanities). Ilmu humaniora sendiri adalah bagian dari Al-'Ulum al-Insaniyah yang objek ilmunya adalah ayat insaniyah.

Dalam konsep teoantropoekosentris (Ilahiyah-Insaniyah-Kauniyah Paradigm), objek ilmu humaniora ini adalah ayat insaniyah (atau ayat anfusiyah). Istilah ayat anfusiyah diambil dari Al-Qur`an surat Fushshilat ayat 53: 

سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰ فَا قِ وَفِيْۤ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَـقُّ ۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?"

Ayat di atas menegaskan bahwa ayatayat Allah dimaksud ada pada afaq (cakrawala, alam semestas), anfus (diri manusia), dan pada qaul/kalam Allah (Al-Qur`an). Dari sinilah kemudian dirumuskan bahwa objek ilmu dalam paradigma teoantropoekosentris adalah ayat qauliyah, ayat insaniyah (anfusiyah), dan ayat afaqiyah (kauniyah).


Bagaimana Hakikat Bahasa?

Gorys Keraf mengatakan bahwa bahasa adalah simbol yang digunakan untuk alat komunikasi yang diterapkan dalam berinteraksi dengan orang lain. 

Tuhan memberi manusia kemampuan mengungkapkan ide/pikiran, perasaan dan hasil sens indrawi dengan bahasa. Objek-objek materi yang dibahasakan itu ada yang bersifat metafisik, psikis, dan indrawi. 

Dengan kemampuan istimewa ini, bahasa menjadi faktor utama pertumbuhan, perkembangan dan transformasi peradaban manusia. Tanpa bahasa, maka manusia tidak punya sarana untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya kepada orang lain. Begitu pula tanpa bahasa maka manusia tidak memiliki sarana yang tepat untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara konstruktif dalam membentuk peradaban.

Meskipun bahasa memiliki keunggulan, tetap saja bahasa memiliki sisi lemah. Mari dilihat, misalnya ketika manusia membahasakan dimensi indrawi dari suatu objek, fenomena, atau hubungan antar penomena, seringkali pilihan bahasa yang digunakan tidak berhasil menyimbolkan secara tepat tentang objek yang dibahasakan. Hal yang lebih rumit lagi yaitu ketika manusia mencoba membahasakan makna hakikat dari suatu objek. Oleh karena itu, di sinilah tampak relativitas mental manusia dalam mengungkapkan apa yang ada dalam hati, pikiran, dan kesan indranya. Sekaligus hal ini menunjukkan relativitas bahasa.

Namun demikian, keunggulan fungsi bahasa jauh lebih besar dari sisi lemahnya. Terkait keunggulan bahasa, harus disyukuri bahwa Allah SWT telah meletakkan pada fakultas jiwa dan pikiran manusia ---secara alamiah--- suatu kemampuan untuk mendeduksi, menginduksi, dan merenungkan objek yang diindra dan dipikirkan secara terstruktur, tersistem dan rapi. Dengan kemampuan ini, manusia dapat mereduksi pengetahuan menjadi konsep, rincian, kategori, klasifikasi, substansi.

Dengan kemampuan mendeduksi, menginduksi, dan merenungkan objek, maka semua ilmu ---termasuk bahasa--- dapat  direduksi, didisplei, dan diverifikasi sehingga batang tubuh keilmuan masing-masing menjadi jelas.

Dalam ilmu bahasa, lihatlah kajian Morfologi. Kajian ini menunjukkan bagaimana bahasa terbentuk dalam susunan yang sistemik dan rapi. Bentuk kerapiannya memiliki kemiripan dengan deduksi angka dalam matematika, atau induksi ilmu-ilmu empiris dalam Sains. Begitu pula deduksi, induksi dan abduksi pada ilmu lain. 

Semua ilmu selalu mengikuti hukum kerapian deduksi, induksi, dan abduksi.  Dalam induksi kualitatif misalnya secara berurutan dimulai dengan koding, kategori, klasifikasi, dan diaakhiri dengan konklusi/verifikasi. Hukum sistem analisis keilmuan ini tampak bersifat taken for granted. Manusia hanya memanfaatkan daya-daya intelektual berupa kemampuan untuk melakukan analisis yang sistemik dan rapi yang telah diletakkan Tuhan pada alam akal/intelek setiap orang. Dengan hukum kerapian analisis ini manusia dapat menentukan substansi dari berbagai kategori, atau menetapkan hal prinsip/pokok dari rincian.

Hukum kerapian sistem analisis deduksi, induksi dan abduksi dalam bahasa ini adalah ayat-ayat Allah yang harus kita imani. Tidak ada satu pun makhluk yang sanggup membuat sistem mental yang sangat rapi ini. Rabbana ma khalaqta hadza bathila. Subhanaka, faqina 'adzabannar. (Waha Tuhan kami, Engkau tidaklah menciptakan hal ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau (dari persangkaan mereka yang tidak pantas). Jagalah kami dari azab neraka). (QS Ali Imran/3 ayat 191).


Apa hal kongkret yang dapat diperankan oleh pengajar ilmu bahasa dalam integrasi ilmu?

Pengajaran ilmu bahasa terbuka lebar untuk menggunakan narasi ilmu yang integratif. Bahkan pengajaran bahasa dapat menggunakan semua narasi keilmuan dalam materi perkuliahan. Termasuk dalam hal ini ilmu agama. Dosen atau pengajar bahasa dapat menarasikan pesan-pesan moral agama dalam pengajaran bahasa. Misalnya, ketika dosen Bahasa Inggris meminta mahasiswa  menuliskan pikirannya dalam bahasa Inggris, ia dapat meminta mereka menuliskan topik-topik pengetahuan yang integratif. Misalnya Pandangan Islam tentang Gender, Islam v.s. Radikalisme, Guru dalam Perspektif Al-Qur`an, dan lainnya. Atau ketika dosen membuat contoh-contoh penggunaan kalimat saat perkuliahan bahasa asing, maka ia dapat menggunakan kalimat yang memiliki idiom-idiom keislaman.

Di sisi lain, tak kalah pentingnya adalah penciptaan suasana perkuliahan yang islami baik dalam kelas maupun di luar kelas. Poin-poin pokok suasana islami dimaksud di antaranya: 1) Suasana belajar yang terbuka, demokratis, humanis dan menyenangkan. 2) Ruang belajar yang bersih dan sehat. 3) Dosen yang melayani pembelajaran/perkuliahan dan tugas-tugas akademik dengan humanis. 4)  Pembelajaran dibuka dengan ucapan  Basmalah ditutup dengan Hamdalah. 5) Dalam kondisi-kondisi tertentu yang relevan dengan materi pembelajaran, dosen melafazkan zikir seperti lafaz tasbih, takbir, tahmid, hauqalah, dan lainnya. 6) Dosen berdoa untuk mahasiswanya agar mereka memperoleh ilmu dan kepahaman yang baik.


Catatan Kaki:

*Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com


Gambar:

Jalan menjelang Sadabuan Kota Padang Sidempuan, 29 Desember 2022.

Selengkapnya