Jumat, 07 Oktober 2022

HAKIKAT WUJUD DAN HAKIKAT ALAM SEMESTA

Pendahuluan

Perspektif filsafat Barat (positivisme) tentang wujud bertentangan dengan perspektif filsafat Islam. Wujud dalam positivisme hanya dipahami segala yang bersifat material (wujud pisik). Di luar yang material tidak mereka pandang sebagai wujud. Pandangan ini menambah problematik pemahaman tentang alam dan juga manusia. Karena mengingkari adanya wujud yang bersifat non indrawi (abstrak). Bagi umat beragama, pandangan ini akan mendestruksi keimanannya.

Dalam filsafat Islam, wujud dibagi kepada wajib al-wujud dan mumkin al-wujud (wujud mutlak dan wujud relatif). Keberadaan mumkin al-wujud bergantung kepada wajib al-wujud. Wajib al-wujud bersifat qadim dan baqa'. Sementara mumkin al-wujud bereksistensi dalam keterhinggaan, keterbatasan dan ketergantungan. Wajib al-Wujud adalah Tuhan, sementara mumkin al-wujud adalah ciptaan (makhluk), yaitu seluruh wujud selain Allah.


Metafisika Penciptaan

Filosof dan ilmuan Barat sekuler bertahan dengan pandangan bahwa wujud-wujud di alam semesta ini terjadi dengan sendirinya. Penjelasan tentang proses kejadian alam semesta yang berisi ribuan atau mungkin lebih galaksi di dalamnya, hanya berhenti pada teori big bang (ledakan dahsyat). Mereka hanya menyebut bahwa kekuatan mengembang dari ledakan itu disebabkan oleh energi hitam, dan tidak lagi mencari tahu apa dan siapa di balik keteraturan dan keindahan susunan yang ada di alam semesta ini. Mereka menutup mata dan hati dari Allah SWT, Sang Kreator Maha Hebat dari alam semesta ini. Teori ledakan yang dipandang sebagai penyebab tunggal terjadinya alam semesta dengan ribuan atau mungkin lebih galaksinya didasarkan kepada argumentasi ilmiah berikut: 

Teori Big bang menggambarkan penciptaan alam semesta sebagai sebuah ekspansi materi yang kemudian meledak seperti balon raksasa yang terus diisi udara. Sisa ledakan tersebut kemudian masing-masing menjadi bibit terbentuknya galaksi, sistem tata surya, dan berbagai objek pengisinya. 

Para kosmolog dan ahli fisika menyebut alam semesta saat ini masih terus meluas sebagai efek dari ledakan Big Bang. Bahkan kecepatan perluasannya diyakini terus bertambah.

Para ilmuwan juga telah menemukan jejak termal yang diprediksi dari Big Bang, radiasi gelombang mikro kosmik yang menyelimuti alam semesta. Dalam jejak termal tersebut tidak ditemukan objek yang lebih tua dari 13,7 miliar tahun. Ini menunjukkan bahwa alam semesta lahir pada sekitar waktu itu (saat fenomena Big Bang).

"Semua hal ini menempatkan Big Bang di atas fondasi yang sangat kokoh," kata Alex Filippenko, astrofisikawan dari University of California, Berkeley. "Big Bang adalah teori yang sangat sukses," imbuhnya.1]

 

Panorama langit yang menunjukkan distribusi galaksi di luar Bimasakti.

Pengamatan mendetail terhadap morfologi dan distribusi galaksi beserta kuasar memberikan bukti yang kuat akan terjadinya Ledakan Dahsyat. Perpaduan selang pengamatan dengan teori menunjukkan bahwa galaksi-galaksi beserta kuasar-kuasar pertama terbentuk sekitar satu milyar tahun setelah Ledakan Dahysyat. Sejak itu pula, beragam struktur astronomi lainnya yang semakin mulia seperti gugusan galaksi mulai terbentuk. Populasi bintang-bintang terus berevolusi dan menua, sehingga galaksi jauh (yang pemantaunnya menunjukkan keadaan galaksi tersebut pada masa awal alam semesta) tampak sangat berlainan dari galaksi dekat. Selain itu, galaksi-galaksi yang baru saja terbentuk tampak sangat berlainan dengan galaksi-galaksi yang terbentuk sesaat setelah Ledakan Dahsyat. Pengamatan ini membantah model keadaan tetap. Pengamatan pada pembentukan bintang, distribusi kuasar dan gaklasi, berlandaskan dengan simulasi pembentukan alam semesta yang diakibatkan oleh Ledakan Dahysat.2]

Penjelasan ilmiah di atas boleh jadi benar, karena tampak dijelaskan dengan konsep dan teori fisika yang konsisten. Hanya saja, penjelasan ini mestinya tidak boleh berhenti pada ketakjuban terhadap penomena kosmik yang dapat dijelaskan dengan hukum-hukum fisika. Ketakjuban itu mestinya ditujukan kepada Sang Maha Kreator Yang Maha Esa, Allah Rabb 'Arsy al-'Azhim  yang telah meletakkan hukum-hukum yang teratur pada alam semesta sehingga manusia dapat mempelajarinya.

Penjelasan Ikhwan al-Shaffa berikut penting untuk dibaca:

Dia menciptakan karya-Nya ini mengejewantah, dengan tujuan akhir agar orang cerdas (ulul albab, pen.) dapat merenungkannya; dan Dia memperlihatkan semua yang ada di dunia-Nya yang tidak terlihat, sehingga pengamat dapat melihatnya dan mengakui keterampilan dan keunggulan-Nya, Kemahakuasaan dan Keesaan-Nya, dan tidak membutuhkan bukti dan demonstrasi. Lebih lanjut, bentuk-bentuk ini yang dirasakan di dunia material, adalah kemiripan yang ada di dunia roh, kecuali yang terakhir ini yang terdiri dari cahaya dan halus; sedangkan yang pertama gelap dan padat. Dan, sebagaimana sebuah gambar yang bersesuaian di setiap anggota tubuh dengan hewan yang diwakilinya, demikian pula bentuk-bentuk ini, bersesuaian dengan yang ditemukan di dunia spiritual. Tapi ini adalah penggerak, dan mereka yang digerakkan... bentuk-bentuk yang di dunia lain bertahan; sedangkan ini binasa dan berlalu.3]

Al-Qur`an, meskipun tidak banyak, juga berbicara tentang  kejadian alam (kosmogoni).  Fazlurrahman menjelaskan, tentang metafisika penciptaan, Al-Qur`an hanya mengatakan bahwa alam semesta beserta segala sesuatu yang hendak diciptakan Allah, tercipta dengan perintahnya, "Jadilah". ([Allah] pencipta langit dan bumi. Apa bila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!", maka jadilah sesuatu itu. QS Al-Baqarah: 117). Ayat Al-Qur`an lainnya yang juga berbicara tentang penciptaan misalnya surat Ali Imran ayat 47 dan 59, Al-An'am ayat 73, An-Nahl ayat 40, dan lain-lain.4] Menarik membaca ayat penciptaan ini. Al-Qur`an menggunakan fi'il al-mudhari' untuk menyebut terjadinya sesuatu. Secara umum fi'il al-mudhari' dalam Al-Qur`an selalu menggambarkan perbuatan sedang terjadi (dalam proses) atau akan terjadi. Dalam surat Ali Imran ayat 47, ada kata perintah "Jadilah!" dalam konteks kelahiran Nabi Isa. Efek dari perintah itu dapat dimaknai "terjadi dalam proses". Artinya, kejadian Nabi Isa terjadi dalam proses kehamilan Siti Maryam.

Al-Qur`an memang memberi penjelasan gamblang bahwa penciptaan langit dan bumi ini terjadi dalam suatu proses waktu yang panjang. Allah menggambarkan dengan ungkapan fi sittati ayyam (enam masa). Dalam Al-A'raf ayat 54, misalnya, Allah menegaskan, "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di ats 'Arsy. ...". Dalam proses panjang itu disebutkan bahwa langit dan bumi itu pada mulanya suatu yang padu (kanata ratqan), lalu Allah memisahnya (QS Al-Anbiya` (21): 30). Boleh jadi teori Big Bang juga terinspirasi dari ayat ini.

Menarik untuk memahami lebih lanjut tentang metafisika penciptaan ini. Dalam surat Fussilat (41) ayat 11 dijelaskan bahwa setelah Allah menuju langit, yang ketika itu masih berupa asap, Allah berfirman kepada langit dan bumi, "... "Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku, dengan patuh (suka) atau terpaksa". Keduanya menjawab, "Kami datang dengan patuh." 

Perhatikan ayat ini, langit dan bumi diberi pilihan untuk datang kepada Allah dengan patuh, kesadaran (by nature) atau terpaksa (by accident). Namun, keduanya memilih datang dengan kesadaran. 

Oleh karena alam semesta (langit dan bumi) patuh dengan kesadaran, maka Al-Qur`an menyatakan keseluruhan alam semesta sebagai "Muslim" (yang patuh, pasrah, tunduk). Langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya (kecuali manusia yang dapat menjadi atau tidak menjadi "Muslim") menyerah kepada kehendak Allah (QS Ali Imran: 83), dan setiap sesuatu memuji Allah (Al-Hadid [57]: 1, Al-Hasyr [59]: 1, dll). Allah juga menyebut bahwa alam semesta ini bersujud kepada Allah, bahkan juga para malaikat dan sebagian besar manusia (QS Ar-Ra'd [13]: 15, An-Nahl [16]: 49 dan Al-Hajj [22]: 18).


Stratifikasi Wujud

Stratifikasi wujud yang terkenal di lingkungan kaum Sufi sbb:

  1. Alam syahadah (alam semesta yang empirik)
  2. Alam nasut (alam manusia sebagai mikrokosmos)
  3. Alam malakut (alam para malaikat)
  4. Alam lahut (hadhrat rububiyyah
IKhwan al-Shaffa menyebut ada 9 strata dalam penciptaan. (Nasr, h. 88).


Tujuan Penciptaan

Al-Quran memberi bimbingan bahwa alam semesta ini diciptakan dengan suatu tujuan yang jelas. Bimbingan ini dapat dipahami dalam konteks penciptaan manusia dalam Al-Baqarah ayat 30 dan Az-Zariyat ayat 56. 

Ibnu Abbas disebutkan menafsirkan liya'buduni pada Az-Zariyat 56 dalam makna liya'rifuni.

Di kalangan Sufi ada kalimat sufistik populer:

كنت كنزا مخفيا فاجبت ان اعرف فخلقت خلقا فبي عرفوني


Catatan kaki:

1] Artikel CNN Indonesia "Teori Big Bang: Penciptaan Alam Semesta Dimulai dari Singularitas" selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20220211082021-199-757812/teori-big-bang-penciptaan-alam-semesta-dimulai-dari-singularitas.

2]http://p2k.unkris.ac.id/id3/3065-2962/Big-Bang_24229_p2k-unkris.html
3]Seyyed Hossein Nasr, Doktrin-doktrin Kosmologi Islam, Yogyakarta: IRCiSoD, 2022,  h. 79.
4] Fazlurrahman, Tema Pokok Al-Qur`an, Bandung: Pustaka, 1996, h. 95.
Selengkapnya

Senin, 03 Oktober 2022

METODE DAN SARANA BERPIKIR ILMIAH



Apa itu ilmiah?

Ilmiyah dari kata Arab ('ilmiyyah). Secara etimologi, 'ilmiyyah artinya bersifat keilmuan. Atau sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan. Istilah Inggris untuk ilmiah adalah scientific. Di Barat, sejak abad ke-15, yang disebut ilmiah hanya informasi keilmuan yang rasional dan empirikal. Atau gabungan kedua-duanya. Di luar itu, bagi mereka tidak termasuk ilmiah. Itulah sebabnya, hingga saat ini, ilmuan Barat tidak memasukkan informasi ilmu yang bersumber dari wahyu (baca: agama) dan metafisika sebagai bagian dari ilmiah (scientific). 

Kita ingin mengoreksi pandangan ini. Karena dalam filsafat keilmuan kita, wahyu diposisikan sebagai sumber pokok pengetahuan. Selain wahyu, sumber pengetahuan lainnya adalah hati, akal dan empiri. 


Metode Berpikir Ilmiah

Ada tiga metode berpikir ilmiah Barat yang terkenal hinga saat ini, yaitu deduksi, induksi dan abduksi. Kita ingin menawarkan satu lagi yaitu dzauqiy. 

Sebenarnya, jalan berpikir deduksi, induksi, abduksi dan dzauqiy ini telah diletakkan Tuhan secara alami pada alam pikiran setiap orang yang berakal sehat. Hanya saja, para filosoflah yang pertama kali menyadari dan memberi label hukum berpikir demikian ini. Jadi hukum berpikir deduktif, induktif, abduktif dan dzauqiy ini adalah anugerah Allah yang besar kepada akal manusia.

1. Deduksi
Deduksi (deduction) dalam Oxford Languages didefinsikan sebagai The inference of particular instances by reference to a general law or principle (Suatu kesimpulan tentang hal-hal partikular dengan mengacu kepada hukum atau prinsip umum). Dalam penjelasan lain, deduksi adalah suatu jalan berpikir untuk mengambil kesimpulan khusus (partikular, juz'iy) dari prinsip atau hukum umum. Ada pula yang menyebut, deduksi adalah jalan berpikir ilmiah dari umum (principle, universal, general, kulliy) ke khusus (particular, juz'iy). Misalnya, salah satu prinsip umum berbunyi: "Semua anak manusia yang dilahirkan memiliki tabiat (fitrah) berketuhanan (berkepercayaan)". "Karl Marz adalah anak manusia". Kesimpulannya, "Karl Marx juga memiliki tabiat berketuhanan (berkepercayaan)". Alur berpikir deduktif yaitu dari hukum-hukum atau prinsip-prinsip umum ke fakta-fakta rasional (bukan fakta empirik). Jadi dari rasio menuju rasio. Berpikir deduktif lahir dari filsafat Rasionalisme.

2. Induksi
Induksi (induction) dalam Oxford Languages didefinisikan sebagai the inference of a general law from particular instances (suatu kesimpulan umum yang ditarik dari hal-hal partikular). Induksi adalah kebalikan dari deduksi. Jika jalan berpikir deduksi, dari prinsip umum/kulliy menuju khusus/juz'iy, maka induksi bergerak dari hal-hal khusus menuju kesimpulan umum. Jalan berpikir ini lazim disebut: dari khusus ke umum. Contoh: Bunga A disiram dengan dibarengi rasa sayang maka bunga akan tumbuh subur dan berbunga mekar. Bunga B disiram dengan dibarengi rasa sayang maka bunga akan tumbuh subur dan berbunga mekar. Bunga C disiram dengan dibarengi rasa sayang maka bunga akan tumbuh subur dan berbunga mekar. Bunga D disiram dengan dibarengi rasa tidak suka dan benci maka pertumbuhannya lambat dan bunganya kurang mekar. Kesimpulan umum: Setiap bunga yang mendapat  siraman air yang disertai rasa sayang, maka bunga akan tumbuh subur dan berbunga mekar. Alur berpikir induktif yaitu dari fakta-fakta empirik/indrawi menuju prinsip atau hukum umum yang rasional. Dengan demikian, dari indra menuju rasio. Berpikir induktif lahir dari filsafat Empirisme.

3. Abduksi
Abduksi (abduction): A sillogysm or form of argument in which the major premise is evident, but the minor is only probable (suatu silogisme atau bentuk argumentasi yang premis mayornya terbukti/logis, tapi kebenaran premis minornya hanya bersifat kemungkinan. 

Abduksi adalah metode berpikir dengan cara memilih argumentasi terbaik dari sekian banyak argumentasi yang mungkin paling tepat. Oleh karena itu, abduksi disebut juga jalan berpikir menuju argumentasi terbaik.

Penalaran abduktif biasanya dimulai dari pengamatan tahap permulaan terhadap suatu setting penomena atau peristiwa, selanjutnya pengamat ---berdasarkan sejumlah penjelasan (premis minor) yang mungkin--- memilih  penjelasan hipotetik yang lebih tepat/logis. Seringkali pemilihan ini didasarkan kepada kecerdasan imajiner (tebakan rasional-kritis) pengamat. 

4. Dzauqiy
Dzauqiy, dari bahasa Arab dzauq, artinya rasa. Penalaran dzauqiy dapat didefinisikan sebagai bentuk penalaran qalbiyah berupa pemaknaan spiritual-intuitif objek-objek  rasional dan empirikal. Penalaran ini bekerja setelah informasi dan fakta rasional-empirikal sudah jenuh. Selanjutnya, melalui keinsafan batin yang mendalam dan sensitifitas nurani yang kuat, qalbu melakukan penghayatan, penyadaran dan pengindraan batin terhadap objek-objek rasional dan indrawi hingga menghasilkan pengetahuan tentang makna hakikat dan makna terdalam dari fakta rasional dan empirikal tersebut. Penalaran dzauqiy ini akan menghasilkan simpulan-simpulan yang meta rasional, berupa ilmu pengetahuan spiritual-intuitif. Jalan penalaran dzauqiy ini yaitu dari empirik-rasional menuju empirik-transendental. Dalam penalaran ini, penerapan pendekatan 'irfani sangat dominan.

Tentang dzauqiy ini dapat dibaca lebih lanjut: https://anhar.dosen.iain-padangsidimpuan.ac.id/2022/04/kita-harus-membaca-kembali-keberadaan.html

Sarana Berpikir Ilmiah
Ada empat sarana pokok dalam berpikir ilmiah  yaitu logika, matematika, bahasa dan statistika. 
Terkait logika sudah dibahas di atas, yaitu logika deduktif, induktif, abduktif dan dzauqiy. Matematika adalah sarana berpikir yang menerapkan logika deduktif-numerik. Contohnya: 1 adalah 1/2 + 1/2. Atau 1/4 + 1/4 + 1/4 + 1/4. Sementara 1/2 adalah pecahan dari 1/4 + 1/4 atau 1/6 + 1/6 + 1/6, dan seterusnya. Matematika akan membantu aktifitas berpikir untuk mengurai kuantitas menjadi unit-unit atau mengklasifikasinya menjadi bagian-bagian. 
Statistika adalah sarana berpikir yang menerapkan logika induktif. Sarana yang satu ini membantu penalaran ilmiah untuk menemukan prinsip atau hukum umum (generalisasi) dari kasus-kasus partikular dengan menerapkan prinsip-prinsip logika matematis. 
Sementara bahasa adalah sarana berpikir ilmiah yang membantu manusia untuk memberi simbol setiap objek dan juga membantu untuk mengungkap makna dari setiap penomena dengan memberi makna itu simbol atau label sehingga dapat ditransmisikan kepada sesama manusia.

Gambar:
Menuju Bandara Soekarno-Hatta, 24 September 2022

Selengkapnya

KEBENARAN: PERSPEKTIF FILSAFAT KEILMUAN TEOANTROPOEKOSENTRIS



"Kebenaran itu pada hakikatnya berada di lubuk hati terdalam setiap orang. Ia dapat dialami dan dirasakan. Ia bahkan suatu energi psikis yang dapat mempengaruhi jiwa setiap orang. Buktinya, ketika suatu kebenaran dikhianati atau disia-siakan, jiwa setiap orang terganggu."

*******


Kebenaran  itu pada hakikatnya berada di lubuk hati terdalam setiap orang. Ia dapat dialami dan dirasakan. Ia bahkan suatu energi psikis yang dapat mempengaruhi jiwa setiap orang. Buktinya, ketika suatu kebenaran dikhianati atau disia-siakan, jiwa setiap orang terganggu. Bahkan lebih dari sekedar energi psikis, kebenaran adalah fitrah kemanusiaan. Kebenaran itu telah dipatronkan oleh Allah secara natural ---melalui peniupan ruh--- kepada manusia. Nabi Saw., menegaskan, "Kullu mawludin yuladu 'alal fithrah, fa abawahu yuhawwidanihi aw yunashshiranihi aw yumajjisanih". (Setiap anak terlahir dengan patron fitrah. Orang tua/wali asuhnyalah yang membuat dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi). Fitrah itu sendiri, menurut Imam Ghazali, "Al-mailu ila al-haqq". (Kecondongan kepada kebenaran). Fitrah inilah yang membuat setiap manusia mendamba kebenaran yang sumber mata airnya berasal dari Allah SWT. Allah berfirman, Al-haqqu min rabbika fala takunanna minal mumtarin. (Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. [QS Al-Baqarah: 147]).

Ayat ini menegaskan bahwa kebenaran hakiki (haqq al-yaqin) itu bersumber dari Allah. Kebenaran seperti ini bersifat universal dan menyejarah menjadi penyangga nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena demikian, orang pun rela berkorban mempertaruhkan nyawa untuk memperjuangkan tegaknya kebenaran.

Kebenaran hakiki demikian ini berada di atas kebenaran filsafat dan sains. Kebenaran filsafat adalah kebenaran yang bersumber dari lubuk perenungan akal/rasio. Kebenaran filsafat ini berada di atas kebenaran sains. Sementara kebenaran sains sesungguhnya tak lebih dari kebenaran persamaan (equation). Ingat, semua pekerjaan ilmiah harus berakhir pada konklusi (kesimpulan). Konklusi itu maknanya adalah "persamaan". Misalnya, jika suatu hipotesis terbukti, maka hal ini bermakna atau "sama dengan" Ha (hipotesis alternatif) diterima.  Kesimpulan penelitiannya yaitu (sama dengan) terdapat hubungan/pengaruh variabel x terhadap y. Atau sebaliknya, jika Ha tidak terbukti, maka hal ini bermakna atau "sama dengan" Ho (hipotesis nihil) terbukti. Artinya, tidak terdapat hubungan/pengaruh variabel x terhadap y. Teori-teori sains juga selalu digambarkan dengan suatu persamaan (equation). Ingat misalnya teori relatifitas Einstein yang sangat terkenal: E=MC2. Begitu pula dalam penalaran matematika, selalu menggunakan persamaan.

Dalam penelitian kualitatif pun demikian. Konklusi yang diambil "sama dengan" fakta kualitatif yang sesungguhnya. Misalnya, ketika seorang peneliti mencari jawaban kualitatif tentang pandangan mahasiswa di suatu perguruan tinggi terkait "Masa Depan Pancasila sebagai Dasar Negara" maka kesimpulannya "sama dengan" deskripsi kualitatif inner perspective (perspektif pokok) mereka tentang masa depan Pancasila sebagai dasar Negara.

Di atas disebutkan bahwa kebenaran universal menyejarah menjadi penyangga nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan ini selanjutnya terobjektifikasi menjadi nilai-nilai kebenaran filsafat dan sains. Oleh karena itu, kebenaran sains sesungguhnya objektifikasi dari kebenaran kemanusiaan.

Kesimpulan sains yang salah apa lagi palsu akan membuat rasa insaniyah (kemanusiaan) kita terganggu.

Secara top down, kebenaran hakiki (empirik-transendental) adalah kebenaran tertinggi. Di bawahnya adalah kebenaran rasional-filosofis (empirik-etik dan estetik). Di bawah kebenaran rasional-filosofis yaitu kebenaran ilmiah (empirik-logik). Dan di bawah kebenaran ilmiah adalah kebenaran indrawi (empirik-sensual).

Gambar: 
Foto bersama setelah bimbingan teknis perkuliahan PPG UIN Syahada Padangsidimpuan 01 Oktober 2022.
Selengkapnya

Jumat, 30 September 2022

HAKIKAT MASYARAKAT: PERSPEKTIF PEMIKIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM


Istilah "masyarakat" ---bentuk isim makan dari syaraka (شارك)--- terambil dari kata kerja fi'l al-madhi "syaraka" artinya berserikat, berkumpul. 

Paul B. Horton dan Chester L. Hunt mendefinisikan masyarakat adalah kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal dalam suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan yang sama, serta melakuka sebagian besar kegiatan dalam kelompok tersebut.1] 

Hampir setiap masyarakat memiliki struksul sosial yang khas. Struktur sosial itu biasanya diikat oleh nilai-nilai budaya yang lazim disebut adat-istiadat. Hanya saja nilai-nilai budaya masyarakat urban (di kota-kota) biasanya lebih longgar dari masyarakat tradisional (di pedesaan atau kampung).

Secara antropologis, nilai-nilai budaya itu terbentuk karena pengaruh agama atau filosofi hidup masyarakat. Di sinilah dapat dilihat, misalnya filosofi hidup jahiliyah membentuk nilai-nilai budaya masyarakat jahiliyah, yang selanjutnya tercermin dalam struktur masyarakat jahiliyah (zhulumat). Selanjutnya nanti, Allah mengutus Rasulullah Saw., untuk mendekonstruksi atau mereformasi filosofi, nilai budaya dan struktur masyarakat jahiliyah menjadi ummatan muslimatan (nur). Struktur ummah (komunitas kaum beriman) ini dibangun di atas nilai-nilai iman-islam-ihsan yang dipimpin oleh Nabi Saw., sendiri. Selanjutnya nanti dipimpin oleh Khulafa' al-Rasyidin yang dipilih melalui syura atau ahl al-halli wa al-'aqdi.2]


Makna Ummah dan Penggunaan Istilah Ummah dalam Al-Qur`an
Ada sejumlah istilah yang digunakan dalam Al-Qur`an untuk menyebut ummah, yaitu ummatan wahidatan (QS 2:213; 5:48; 10:19; 11:118; 16:93; 21:92; 23:52; 42:8; 43:33), khaira ummatin (QS 3:110), ummatun qaimatun (QS 3:113), ummatan wasathan (QS 2:143), ummatan muslimatan (QS 2:128), ummatun muqtashidatun (QS 5:66), ummatin ma'dudatin (QS 11:8), dan ummatan qanitan (QS 16: 120).

Istilah ummat digunakan dalam arti yang bermacam-macam. Dalam surat Al-Anbiya`/21 ayat 92 dan Al-Mu`minun/23 ayat 52 istilah ummat digunakan untuk menunjuk agama tauhid. Sementara pada Al-Baqarah/2 ayat 128, 134, 141, dan lainnya digunakan untuk menyebut komunitas atau kelompok manusia. Di sisi lain, ada pula yang digunakan untuk menunjuk komunitas, golongan atau kelompok manusia yang memiliki keyakinan yang sama. Hal ini dapat dilihat pada surat Al-Baqarah/2 ayat 213.

Suatu kelompok ummat dapat hidup langgeng (berumur panjang) dapat pula berumur pendek. Hal yang pasti, tidak ada ummat yang abadi. "Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apa bila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS Al-A'raf (7): 34). 

Salah satu poin pokok yang ditekankan oleh Al-Qur`an adalah individu-individu yang berislam dan beriman kepada Allah, wajib membentuk ummat dengan ciri-ciri: ummatan muslimatan, ummatun qaimatun, ummatan wasathan, ummatun muqtashidatun, dan ummatan qanitan.

Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany merumuskan sembilan prinsip dasar pandangan Islam tentang  masyarakat. Dalam hal ini dapat juga dimaknai sebagai sembilan prinsip dasar pembentukan ummat, yaitu:3]

  1. Meyakini bahwa masyarakat adalah sekumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan tanah air, kebudayaan dan agama.
  2. Meyakini bahwa masyarakat Islam mempunyai identitas dan ciri-ciri tersendiri yang khas.
  3. Meyakini bahwa dasar pembinaan masyarakat Islam adalah akidah (keimanan tentang wujud dan keesaan Allah).
  4. Kepercayaan bahwa agama yang mengikat masyarakat itu terdiri dari akidah, ibadah dan mu'amalah.
  5. Meyakini bahwa ilmu itu adalah dasar terbaik bagi kemajuan masyarakat sesudah agama.
  6. Meyakini bahwa masyarakat selalu berubah.
  7. Meyakini bahwa tiap individu memiliki posisi penting dalam struktur masyarakat.
  8. Meyakini bahwa keluarga memiliki posisi penting dalam masyarakat.
  9. Meyakini bahwa segala tindakan dan upaya yang menuju kesejahteraan bersama, keadilan dan kemaslahatan antar manusia termasuk di antara tujuan-tujuan syari'at islamiyah.

Pembentukan Masyarakat/Ummah

Dalam perspektif Kuntowijoyo, untuk menganalisis struktur bangunan ummah ini dapat menggunakan analisis strukturalisme. Dengan mengutip Michael Lane dalam Introduction to Structuralism,  ia menjelaskan bahwa ciri pertama dari metode strukturalisme yaitu perhatiannya pada totalitas (keseluruhan objek), bukan pada bagian-bagian. Analisis strukturalisme mempelajari unsur, tetapi unsur itu tetap dilihat dalam konteks keseluruhan jaringan yang menyatukan unsur-unsur dimaksud. Oleh karena itu, rumusan pertama strukturalisme yaitu unsur hanya bisa dimengerti melalui keterkaitan (inter-connectedness) antar unsur. Kedua, analisis strukturalisme tidak mencari struktur dipermukaan atau pada peringkat pengamatan, tetapi di bawah atau dibalik realitas empiris. Apa yang ada/tampak di permukaan adalah cerminan dari struktur yang ada di bawah (deep structure), lebih ke bawah lagi ada kekuatan pembentuk struktur (innate structuring capacity). Ketiga, dalam peringkat empiris, keterkaitan antar unsur bisa berupa binary opposition (pertentangan antara dua hal). Keempat, strukturalisme memperhatikan unsur-unsur yang sinkronis, bukan yang diakronis. Maksudnya unsur-unsur dalam satu waktu yang sama, bukan perkembangan antar waktu, diakronis atau historis.

Dalam Islam dan masyarakat Islam, inter-connectedness sangat ditekan dalam keseluruhan ajarannya. Misalnya keterkaitan antara shalat dan zakat, puasa dan infak, hubungan vertikal dan hubungan horizontal. Demikian pula keterkaitan iman, amal shaleh dan solidaritas sosial. Dengan demikian, menurut Kuntowijoyo, epistemologi dalam Islam adalah epistemologi relasional. Satu unsur selalu ada hubungan dengan yang lain. Keterkaitan antar unsur ini juga bisa sebagai logical consequences dari satu unsur. Seluruh rukun Islam lainnya (shalat, zakat, puasa, haji) adalah konsekuensi logis dari syahadah. 

Berikut innate structuring capacity masyarakat/ummah:4]



Tanggung Jawab Masyarakat Khairu Ummah: Humanisasi, Liberasi dan Transendensi

Tugas humanisasi, liberasi dan transendensi menurut Kuntowijoyo tergambar dalam surat Ali Imran (3) ayat 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik."

Ayat di atas dengan sangat jelas menegaskan bahwa umat Islam disebut khairu ummah. Khairu ummah ini ukhrijat linnas (menyandang misi khusus) untuk menghumanisasi, meliberasi, dan mentransendensi umat manusia. 

Humanisasi di sini dilakukan dengan cara mengarahkan dan mengondisikan masyarakat kepada penegakan nilai-nilai yang ma'ruf (nilai-nilai kemanusiaan) sehingga setiap warga merasakan kesetaraan, keadilan, kesamaan dalam hukum, dsb. Liberasi (pembebasan) dicapai dengan cara menjaga dan melindungi masyarakat dari hal-hal destruktif. Sementara transendensi diikhtiarkan untuk mengarahkan hidup masyarakat supaya hidup secara bermakna berbasis nilai-nilai ketuhanan. Nilai-nilai ketuhanan ini mengarahkan masyarakat menemukan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Penemuan nilai-nilai luhur kemanusiaan ini akan mengantarkan masyarakat menuju nilai-nilai ketuhanan.

___________________

Catatan Kaki:
1] https://tirto.id/pengertian-masyarakat-menurut-para-ahli-serta-ciri-unsur-unsurnya-gbbv
2] Munawir Syadzali, Islam dan Tata Negara.
3] Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1979), h. 163-258.
4]Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika (Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana, 2007), h. 33. 

Gambar:
Jalur tol menuju Badara Sekarno-Hatta pada 22 September 2022
Selengkapnya

Senin, 26 September 2022

MODEL PENGEMBANGAN INTEGRASI KEILMUAN DI UIN SYAHADA PADANGSIDIMPUAN

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, model diartikan "pola" (sistem, cara kerja, bentuk). Dalam kalimat, misalnya "pola permainan" atau "pola pemerintahan".1] Model pengembangan integrasi keilmuan dapat dimaknai sistem atau atau cara kerja pengembangan integrasi keilmuan. Integrasi keilmuan di UIN Syahada dipahami sebagai integrasi/pemaduan 'ulum ad-diniyah, ulum al-insaniyah dan ulum al-kauniyah dalam kajian dan penelitian mahasiswa dan dosen melalui pendekatan interdisipliner, multi disipliner dan transdisipliner.

Bagaimana Model Pengembangan Integrasi Keilmuan UIN Syahada?
Berikut dijelaskan model pengembangan integrasi keilmuan UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan (selanjutnya disingkat UIN Syahada). Pertama-tama akan dijelaskan pijakan atau basis pengembangan integrasi keilmuan, yaitu basis filosofi dan paradigma pengembangan keilmuan. Kedua, Metodologi pengembangan integrasi keilmuan. Ketiga, implementasi dan operasionalisasi.

1. Basis Pengembangan: Filosofi dan Paradigma
Model pengembangan integrasi keilmuan UIN Syahada didasarkan kepada filosofi integrasi ilmu (integration of knowledge). Hal ini sebagaimana filosofi keilmuan yang dianut oleh seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di Indonesia. Pandangan dasar (theological and philosophical view) filosofi integrasi keilmuan yaitu Allah SWT adalah sumber utama ilmu pengetahuan. Ma'rifatullah (mengetahui Allah) adalah puncak pencarian keilmuan. Filosofi ini memosisikan Al-Qur`an tidak saja sebagai grand theory, tapi bahkan grand philosophy pengembangan ilmu. Dalam konteks ini Al-Qur`an menjadi petunjuk dan pembimbing (huda dan rusyd) keilmuan. Dalam surat Fussilat ayat 51, yang menjadi salah satu pijakan penting filosofi integrasi keilmuan UIN Syahada Padangsidimpuan, memberi petunjuk bahwa afaq (ufuk, cakrawala), anfus (diri manusia) adalah ayat Allah (tanda atau simbol Kemahabesaran Allah). Afaq di sini adalah ayat kauniyah, sementara anfus adalah ayat insaniyah.  Dalam perspektif berpikir Hasan Langgulung, yang juga diadopsi dalam pemahaman filosofi integrasi ilmu UIN Syahada, ayat kauniyah dan ayat insaniyah ini menjadi "kamus" bagi ayat qauliyah (wahyu Al-Qur`an). Dengan berpikir demikian, maka menjadi jelaslah bahwa ayat kauniyah (afaqiyah) dan ayat insaniyah (anfusiyah) adalah kamus yang menjadi penjelas kandungan ayat-ayat Al-Qur`an.2] Oleh karena itu dapat pula dipahami bahwa diri manusia dan alam semesta sesungguhnya menghimpun narasi tentang penjelasan makna ayat qauliyah.

Petunjuk ayat Al-Qur`an lainnya menjelaskan bahwa ilmu itu milik Allah dan bersumber dari-Nya. Untuk memperoleh ilmu, maka  Allah memberi manusia sarana-sarana untuk memperolehnya. Sarana  utuk memperoleh ilmu adalah pendengaran, penglihatan dan fu'ad (hati). Allah membuka pintu ilmu kepada manusia melalui penggunaan sarana utama tersebut. Hanya saja ilmu yang diperoleh manusia terbatas pada ilmu yang dikehendaki Allah.3] 

Dari filosofi "integrasi keilmuan" demikian ini diturunkanlah paradigma keilmuan "Teoantropoekosentris" ("Haramu Takamul al-Ulum"). Paradigma ini ---sebagaimana dinyatakan di atas--- didasarkan kepada pandangan dasar (theological and philosophical view) bahwa Allah SWT adalah sumber utama ilmu pengetahuan. Untuk mengetahui ilmu Allah itu maka Allah menunjukkan ilmu-Nya melalui tiga ayat utama, yaitu ayat qauliyah (ilahiyah), ayat nafsiyah (insaniyah), dan ayat kauniyah. Dari ketiga bentuk ayat ini lahir peradaban keilmuan. Secara khusus, dari ayat qauliyah lahir 'ulum ad-diniyah (ilmu-ilmu keagamaan). Dari ayat nafsiah (insaniyah) muncul ilmu sosial dan humaniora. Sementara dari ayat kauniyah (termasuk di sini jismiyah manusia) terproduksi ilmu sains dan teknologi. Ilmu-ilmu yang lahir dari peradaban umat manusia ini menjadi referensi berharga dalam pengembangan ilmu-ilmu integratif. Dalam operasi keilmuan di "atas meja" atau pada latar kajian, riset dan eksprimentasi ilmiah, trialektika ketiga wilayah keilmuan ini berdiri sejajar dalam kancah kajian dan penelitian. Dengan bimbingan Al-Qur`an (quar`anic world view), trialektika ketiga wilayah keilmuan ini akan melahirkan ilmu-ilmu integratif yang rahmatan li al-'alamin.

2. Metodologi
Trialektika 'ulum ad-diniyah, 'ulum al-insaniyah dan 'ulum al-kauniyah dikelola menggunakan pendekatan interdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner. Dalam KBBI, interdisiplin artinya antardisiplin atau antar bidang studi. Istilah interdisiplin (interdisciplinary) dalam Oxford Languages didefiniskan sebagai relating to more than one branch of knowledge. Dalam kurikulum berbasis teoantropoekosentris, pendekatan interdisipliner dipahami sebagai pendekatan pengembangan kurikulum dengan cara memadukan atau mengoneksikan dua atau lebih disiplin ilmu untuk mengkaji atau meneliti suatu objek kajian atau suatu masalah keilmuan. Pengkajian dalam disiplin ilmu keagamaan dipadukan dengan dengan disiplin imu sosisal-humaniora dan sains. Sebaliknya pengkajian dalam disiplin sosial-humaniora dan sains dipadukan dengan disiplin ilmu keagamaan.

Pendekatan multidisipliner. Kata multidisiliner dalam KBBI bermakna "berkaitan dengan berbagai ilmu pengetahuan". Misalnya dalam kalimat: bidang forensik merupakan suatu telaah multidisipliner. Istilah multidisciplinary dalam Oxford Languages diartikan sebagai combining or involving several academic disciplines or professional specializations in an approach to a topic or problem. Dalam konteks integrasi keilmuan Teoantropoekosentris, pendekatan multidisipliner dilakukan dengan cara mengkombain beberapa disiplin ilmu atau beberapa spesialisasi profesi keilmuan untuk membahas suatu topik atau masalah. Cara ini lebih luas dari pendekatan interdisipliner. Pendekatan multidispliner lebih komprehensif dari pendekatan interdisipliner, karena tidak saja melibatkan berbagai disiplin akademik keilmuan tapi juga pelibatan spesialis (expert) yang memiliki keahlian. Secara metodologis, sistem kerja riset atau kajian multidisipliner sama dengan interdisipliner. Hanya saja dalam kajian atau riset multidisipliner, disamping melibatkan akademisi juga melibatkan para profesional (expert).

Pendekatan Trandisipliner. Transdisipliner secara bahasa diartikan sebagai lintas disiplin. Riset Transdisipliner (transdisciplinary research) diartikan sebagai research efforts conducted by investigators from different disciplines working jointly to creat new conceptual, theoritical, methodological, and translational innovations that integrate and move beyond discipline-specific approaches to address a common problem.4] Penerapan pendekatan ini dalam integrasi kurikulum dilakukan dengan cara mengkombain pandangan akademisi, expert, profesional, praktisi, politisi dan lainnya ketika mengkaji suatu masalah atau topik. Dalam pendekatan ini, kajian atau riset melibatkan semua unsur masyarakat yang ada kaitan dengan topik atau masalah yang memerlukan perhatian atau pemecahan. Oleh karena, pendekatan transdisiplin benar-benar lintas disiplin, lintas profesi, lintas keahlian, dan lintas praktisi dan lintas skill lainnya.

Perlu ditegaskan di sini bahwa pendekatan interdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner yang dilakukan benar-benar berbasis paradigma teoantropoekosentris (ilahiyah-insaniyah-kauniyah).

3. Implementasi dan Operasionalisasi
Implementasi
Implementasi pengembangan integrasi keilmuan dioperasikan pada program-program studi "Keagamaan" dan program-program studi "sosial-humaniora dan sains-teknologi". Berikut penjelasannya:5]
Pertama, Program-program studi keagamaan yang core curruculum-nya lebih ke teosentris, akan dikembangkan lebih lanjut dengan cara mengintegrasikan dan atau menginterkoneksikannya dengan ilmu atau kajian pada wilayah antroposentris dan ekosentris. Dalam operasinya di tingkat program studi, ayat qur'aniyah yang wujudnya dalam bentuk hadharah an-nash diintegrasikan atau dikoneksikan dengan ayat afaqiyah dan ayat anfusiyah, yang wujudnya hadharah al-'ilm dan hadharah al-falsafah.
Sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, program studi "keagamaan" ini menjadi core business pendidikan dan pengajaran UIN Syahada. Keberadaan program studi dan ilmu-ilmu yang berasal dari wilayah antroposentris dan ekosentris diorientasikan untuk memperkuat core business pendidikan dan pengajaran perguruan tinggi ini.6] Hal ini sebagai implementasi Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2022 pada pasal 3 ayat (2) yang berbunyi: Selain menyelenggarakan program pendidikan tinggi ilmu Agama Islam sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan dapat menyelenggarakan program pendidikan tinggi ilmu lain untuk mendukung penyelenggaraan program pendidikan tinggi ilmu Agama Islam.7]

Kedua, Operasi konsep integrasi keilmuan pada program studi "sosial-humaniora dan sains-teknologi dengan cara mengintegrasikan ayat qur'aniyah pada kajian dan riset sosial-humaniora dan sains-teknologi.

Operasionalisasi 
Operasionalisasi integrasi keilmuan "Teoantropoekosentris" dalam perkuliahan dan program kurikuler dilakukan sebagai berikut:8]
Pertama, mata kuliah inti "ke-universitas-an" yang memuat epistemologi keilmuan dan materi integratif, diajarkan pada semua program studi. Mata kuliah ini memandu bagi seluruh mata kuliah lain, khsusnya dalam hal integrasi. Contoh mata kuliah ini, Filsafat Ilmu dalam Islam dan Studi Islam Komprehensif.
Kedua, pola pengajaran untuk mata kuliah tertentu, yang memuat kompetensi multidisipliner atau transdisipliner, dilakukan dengan team teaching, yang anggota dosennya berasal dari program studi atau kompetensi keilmuan yang berbeda. 
Ketiga, pada mata kuliah yang capaian atau muatan kompetensi keilmuannya sama, mahasiswa diperbolehkan mengambil pada program studi berbeda, sehingga terjadi penyebaran kompetensi dan karakter. Misalnya mahasiswa pada program studi keagamaan mengambil mata kuliah pada program studi sosial-humaniora atau program studi sains.
Keempat, desain RPS (Rencana Pembelajaran Semester) disusun berbasis teoantropoekosentirs. Di dalamnya terkonsepkan pengajaran dengan pendekatan integrasi keilmuan, apakah dari sisi materi maupun dari sisi desain perkuliahan dan dari sisi kompetensi dosen.
Kelima, memberikan keterampilan khusus kepada mahasiswa melalui program lintas disiplin berbasis integrasi keilmuan. Misalnya memberi program tahfizh kepada mahasiswa pada program-program studi sosial-humaniora dan sains, dan memberikan keterampilan saintek kepada mahasiswa prodi-prodi keagamaan.
Keenam, mewajibkan dosen dan mahasiswa menjadikan buku-buku atau jurnal yang bermuatan integrasi keilmuan sebagai referensi perkuliahan.
Ketujuh, setiap program studi memiliki panduan integrasi keilmuan "teoantropoekosentris" yang mengacu kepada panduan universitas untuk diterapkan pada semua kegiatan akademik prodi masing-masing.
_______________________
Catatan kaki:
1] https://kbbi.web.id/pola
2] Dalam QS Fussilat ayat 51, ditegaskan bahwa Allah SWT niscaya akan memperlihatkan kepada manusia ayat-ayat-Nya pada afaq dan anfus, hingga jelaslah bagi manusia bahwa Al-Qur`an itu benar. Dari sini dapat ditarik pandangan bahwa pemahaman tentang ayat-ayat kauniyah dan nafsiyah akan mengantar kepada pemahaman bahwa wahyu dalam Al-Qur`an itu benar. Ayat inilah yang secara eksplisit menegaskan bahwa ayat qauliyah, ayat insaniyah dan ayat kauniyah pada hakikatnya satu. Jadi ilmu itu sesungguhnya satu. Namun dalam objektifikasinya tampak terbagi.
3] Lihat surat Al-Baqarah ayat 30: "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,..."; Al-Baqarah ayat 147: "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu"; Al-Baqarah ayat 255: "...dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya..."; An-Nahl ayat 78: "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur". 
4] https://www.hsph.harvard.edu/trec/about-us/definitions/#:~:text=Transdisciplinary%20Research%20is%20defined%20as,to%20address%20a%20common%20problem.
5]Naskah Akademik "Pyramid of Sciences Integration (Haramu Takamul al-'Ulum)" UIN Syahada Padangsidimpuan.
6] Naskah Akademik "Pyramid of Sciences Integration (Haramu Takamul al-'Ulum)" UIN Syahada Padangsidimpuan.
7]Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2022 Tentang Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary. 
8]Naskah Akademik "Pyramid of Sciences Integration (Haramu Takamul al-'Ulum)" UIN Syahada Padangsidimpuan.
Selengkapnya

Sabtu, 24 September 2022

MENCARI MAKNA 'IRFANI TIGA KALI MENYEBUT SALAM SAAT DUDUK TAHIYAT AKHIR DALAM SHALAT


"Pada salam yang pertama, seolah-olah kita bertemu langsung secara ruhaniah dengan Rasulullah Saw., kemudian kita bersalam kepadanya. Di sini "aku" berjumpa dengan "engkau" dalam jamuan ruhaniah yang qudus. Lalu "aku" dalam perjumpaan ini mengucapkan salam, "Assalamu 'alaika ayyuhan nabiy..." (Semoga salam atas-"mu" wahai Nabi...)."
*******

Salam
Salam (سلام) dari kata kerja bentuk lampau sa-li-ma artinya aman, damai, selamat, sejahtera. Ketika kata ini diucapkan dengan lafaz as-salamu 'alaikum, maka maknanya akan berubah menjadi do'a, yaitu "Semoga kedamaian/keselamatan/kesejahteraan atas kalian". Nilai yang dikandung oleh lafaz as-salam secara hakiki juga mengandung makna "bahagia lahir-batin". Jadi, ketika disampaikan ucapan as-salamu 'alaikum kepada orang lain,  disamping bermakna seperti disebut di atas, juga bermakna "Semoga kalian bahagia lahir-batin". Doa ini lebih sempurna lagi jika ditambah dengan ungkapan warahmatullahi wabarakatuh. Dengan tambahan ini maka salam tersebut akan bermakna: "Semoga salam (bahagia lahir batin) terlimpah atas kalian, begitu juga rahmat Allah dan keberkahan-Nya."


Mencari Makna Irfani Salam pada Duduk Tahiyat Akhir
Duduk tahiyat akhir adalah pekerjaan terakhir dalam shalat sebelum menutup shalat dengan salam. Seingat penulis dalam salah satu buku yang ditulis oleh Imam Khomeini ---semoga tidak salah--- beliau berpandangan bahwa duduk Tahiyat Akhir ini bagaikan berada di puncak spiritual. Ibarat mi'raj, seorang yang sudah sampai pada tahiyat dalam shalat ini bagaikan berada di langit ketujuh. Ia duduk dengan sikap tawarru' dan tadharru' (duduk dengan sikap warak dan rendah hati) di hadapan Allah Rabb 'Arsy Yang Agung. Dalam kondisi seperti ini, ia melanjutkan munajatnya dengan melafazkan doa penghormatan sepenuh hormat: 
التحيات المباركات الصلوات الطيبات لله
atau bacaan berikut:
 التحيات لله والصلوات والطيبات 

"Segala kehormatan, keberkahan, shalawat dan kebaikan milik Allah/ 

Segala kehormatan milik Allah, begitu pula shalawat dan kebaikan."

Setelah lafaz penghormatan (ta'zhim at-ta'zhim) kepada Allah Tuhan 'Arsy yang Agung: "Segala kehormatan, keberkahan, shalawat dan kebaikan milik Allah", kita pun melanjutkan munajat kita dengan mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam:

السلام عليك ايها النبي ورحمة الله وبركاته

"Semoga salam atasmu wahai Nabi, juga rahmat Allah serta berkahnya.

Pada salam yang pertama ini, seolah-olah kita bertemu langsung secara ruhaniah dengan Rasulullah Saw., kemudian kita bersalam kepadanya. Di sini "aku" berjumpa dengan "engkau" dalam jamuan ruhaniah yang qudus. Lalu "aku" dalam perjumpaan ini mengucapkan salam, "Semoga salam atas-"mu" wahai Nabi."

Salam kedua adalah permohonan salam kepada kami/kita yang beribadah:

السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين

"Semoga salam atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih."

Dengan mendahulukan salam kepada Nabi, selanjutnya ---seolah-olah disaksikan oleh Nabi yang mulia--- kita menyampaikan doa kepada Allah, "Semoga pula salam tercurah kepada "kami" (yang sedang shalat) dan kepada hamba-hamba Allah yang shalih." Hamba-hamba yang shalih di sini tak berbatas waktu dan tempat. Oleh karena itu dapat dimaknai seluruh hamba yang shalih yang sudah wafat dan masih hidup.

Salam ketiga adalah salam ketika kita benar-benar kembali ke dunia empirik. Salam ke arah kanan dan kiri. Salam ini menandai berakhirnya shalat. Salam ini ditujukan kepada seluruh makhluk Allah yang tunduk kepada Allah, baik dari kalangan malaikat, jin, maupun manusia yang posisinya berada di sebelah kanan dan sebelah kiri.

Selanjutnya, seorang yang shalat menyeru Allah dengan sebutan As-Salam dalam zikir sesudah shalat: Allahumma antas salam, wa minkas salam, tabarakta ya dzaljalali wal ikram (Ya Allah, Engkaulah As-Salam, dariMulah diperoleh as-salam, Maha Berkah Engkau, wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan). Hal ini menegaskan pentingnya mendapatkan as-salam. Jika seorang mukmin memperoleh as-salam, maka ia telah berada dalam naungan ridha Allah dunia dan akhirat. 

Seorang hamba yang munajatnya diridhai dan diterima Allah, maka dalam kehidupan ini, ia pun menebarkan salam. Bahkan meskipun ia diremehkan oleh orang-orang jahil. Ingat firman Allah: Wa idza khathabahum al-jahiluna qalu salama (Jika orang-orang jahil menyapa mereka (dengan sapaan yang remeh/merendahkan), maka mereka meresponnya dengan ucapan salam (damai, menyejukkan). Allahu a'lam bi al-shawwab.

Gambar:
Bandara Kualanamu, diambil dari pesawat Batik Air ID8890 saat landing 24 September 2022.
Selengkapnya