MENYIKAPI PERBEDAAN MUHAMMADIYAH DAN NU DALAM IBADAH MAHDHAH


"Oleh karena itu, seorang Muslim yang dewasa akan melihat perbedaan ini sebagai sesuatu yang terjadi by nature (bagian dari takdir Allah), layaknya perbedaan etnis dan warna kulit pada manusia. Secara historis, perbedaan ini juga sudah bersifat laten. Bahkan sudah berabad-abad. Oleh karena itu sangat tidak arif jika ada orang berharap agar perbedaan peng-amal-an itu dinafikan."
*******

Dalam memahami ibadah yang benar, Muhammadiyah sangat mementingkan aspek praktikal-empirikal (juz'iyyat, hai'at dan kaifiyyat) ibadah sebagaimana dipraktikkan dan ditradisikan oleh Nabi Saw dan para sahabat. Contoh, ibadah zikir setelah shalat fardhu. Bagi Muhammadiyah, zikir dengan sirr (lirih) dan sendiri-sendiri adalah praktik terbaik yang mesti dicontoh dan ditradisikan dari generasi ke generasi. Mengapa? Karena Nabi Saw dan para sahabat secara empirik --sebagaimana dapat ditarik pemahaman dari banyak teks hadits-- melakukan dengan cara seperti itu. Muhammadiyah tidak menampik adanya hadits-hadits yang dapat dijadikan dalil bahwa zikir dengan suara jahar (nyaring) pernah dilakukan Nabi. Demikian pula Muhammadiyah tidak menampik bahwa ada dalil hadits yang dapat dijadikan alasan bahwa zikir dan doa berjamaah usai shalat jama'ah fardhu itu boleh dilakukan. Hanya saja ---secara praktikal-empirikal--- Nabi Saw dan para sahabat dipahami tidak mentradisikan zikir dan doa berjamaah usai shalat fardhu dimaksud. Hadits-hadits yang dijadikan dalil tentang zikir jahar dimaksud lebih bersifat kasuistik. Dengan demikian belum dapat ditarik suatu kesimpulan yang koheren (konsisten) untuk pembenaran zikir jahar dan berjama'ah dimaksud. Alasan pokok inilah yang jadi tumpuan Muhammadiyah untuk tetap berzikir dan berdoa sendiri-sendiri dan mentradisikannya di lingkungan warga dan simpatisan Muhammadiyah.

Sementara NU, yang memosisikan jam'iyah (organisasi)-nya penjaga tradisi Islam Nusantara, berpandangan bahwa zikir dan doa berjamaah usai shalat fardhu merupakan tradisi suci yang mesti dipelihara. Para ulama Nusantara diyakini tidak sembarangan dalam mewariskan tradisi agama, apa lagi soal ibadah. Meskipun secara eksoteris (bentuk luar), tradisi zikir berjamaah ini berbeda dengan tradisi Nabi Saw dan para sahabat, namun secara substantif dipandang sebagai bentuk pengamalan ibadah yang tidak bertentangan sama sekali dengan Sunnah Nabi. Bahkan, justru merupakan pengamalan dari Sunnah Nabi Saw yang secara parsial dapat ditemukan dalil-dalil hadits shahih yang mendukung. 

NU berpandangan bahwa perbedaan pengamalan zikir yang tampak pada permukaan itu tidak boleh serta-merta disimpulkan tidak sesuai dengan Sunnah. Hal ini karena esensinya tetap dalam rangka pengamalan Sunnah. Perbedaan-perbedaan pada permukaan itu terjadi dipandang sebagai  bentuk kecerdasan para ulama Nusantara dalam melakukan islamiasasi yang damai di bumi Nusantara ini. Jika bukan dengan cara seperti itu, maka Islamisasi Nusantara akan sulit diterima oleh penduduk yang tadinya beragama Hindu, Buddha, dan kepercayaan lain yang penuh dengan liturgi dan mantra-mantra spiritual.


Bagaimana Sikap Kita?

Sikap yang paling arif (islami) yaitu masing-masing tidak boleh memandang pengamalan ibadahnya paling benar, lalu menyatakan yang lain salah. Selanjutnya tidak arif pula untuk menyatakan yang satu Sunnah, lalu yang satunya lagi bid'ah. Esensi pokok yang mesti dilihat yakni kedua-duanya berupaya mengamalkan Sunnah Nabi, merindukan surga dan mencari keridaan Allah SWT.

Oleh karena itu, seorang Muslim yang dewasa akan melihat perbedaan ini sebagai sesuatu yang terjadi by nature (bagian dari takdir Allah), layaknya perbedaan etnis dan warna kulit pada manusia. Secara historis, perbedaan ini juga sudah bersifat laten. Bahkan sudah berabad-abad. Oleh karena itu sangat tidak arif jika ada orang berharap agar perbedaan peng-amal-an itu dinafikan. Selama perbedaan pemahaman tetap ada, maka perbedaan peng-amal-an juga akan tetap ada. Menyamakan pemahaman setiap kelompok umat Islam di muka bumi ini sama saja dengan menyamakan cara berpikir. Hal demikian ini tentu suatu kemustahilan, alias menentang takdir.

Dengan kesadaran yang sungguh-sungguh terhadap realitas perbedaan ini, maka mari kita tonjolkan semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan), yang dalam konteks pesan ini yaitu berlomba-lomba dalam memahami ibadah dan mengamalkannya. Dalam perlombaan ini, mari pula kita tingkatkan terus interaksi masing-masing pihak sehingga perbedaan yang ada tumbuh kembang mendinamisasi ummat sehingga memberi konstribusi positif bagi ukhuwah dan peradaban ummat Islam. Allahu a'lam.



APAKAH KEMAMPUAN KEILMUAN KITA HANYA SEBATAS "SEJARAWAN IDE-IDE"?

Ungkapan "sejarawan ide-ide" ini berasal dari Michel Foucault (1926-1984) dalam Arkeologi Pengetahuan.

Pada umumnya, kemampuan keilmuan kita sebatas seorang "sejarawan ide-ide", yaitu kemampuan mengoleksi, menghubungkan, mengkomunikasikan, membandingkan, dan memilih ide-ide yang pernah ada. 

Semestinya harus berada di atas kemampuan seorang sejarawan ide-ide, yaitu kemampuan mengkomparasikan (atau mentarjihkan), menginterpretasikan, dan mensintesiskan ide-ide yang ada.

Bahkan lebih dari itu, mereka yang sudah berpendidikan  strata tiga semestinya memiliki kemampuan memproduk konsep, model atau teori baru.

Seorang "sejarawan ide-ide" baru mengerahkan kemampuan hafalan dalam aktifitas keilmuan, sementara anugerah Allah terhadap kemampuan akal dalam mendeduksi, mengapduksi dan menginduksi  belum didayagunakan dengan baik.

Di atas itu semua, Allah SWT memberi kita kemampuan menangkap makna yang jauh lebih abstrak dari sekedar abstraksi rasional. Kemampuan terakhir ini ---dalam bahasa sufistik--- disebut dengan kemampuan 'irfani (intuitif). Kemampuan terakhir ini akan mengantarkan seorang pencari ilmu dapat menangkap bentuk-bentuk abstraksi ilmu yang bersifat spiritual/ruhaniah. Tahap inilah yang dipandang sebagai tahap pencapaian ilmu yang utuh (kamil, paripurna).

Sangat banyak ilmuan Barat penasaran dengan kemampuan abstraksi ruhaniah ini. Akhirnya, di tengah keputusasaan mereka dalam menemukan metodologi yang koheren dalam tingkatan 'irfani (intuitif) ini, mereka mencampakkan tingkatan ilmu paling berharga ini dari paradigma rasional mereka. Dalam keputusasaan, mereka menyebut ilmu 'irfani ini bukan bagian dari ilmu pengetahuan (scientific knowledge). Allahu a'lam. 

JALAN INDUKTIF DALAM PENELITIAN KUALITATIF

Induktif adalah metode berpikir klasik yang alurnya dari khusus ke umum; dari partikular ke universal; dari juz'i ke kulliy. Jalan berpikir ini diwariskan oleh seorang filsuf besar Yunani Kuno, Aristoteles.
Aristoteles mengajarkan bahwa untuk mencapai substansi sesuatu sebagai suatu bentuk abstraksi pengetahuan paling tinggi atau suatu kategori paling umum (universal/kulliy) yang dibangun oleh rasio terhadap hasil penginderaan kepada alam atau penomena empiri, maka harus dimulai dari abstraksi rasio terhadap unit/satuan terkecil yang ditangkap oleh indera. Ia mencontohkan sebagai berikut:
Manusia mengindera berbagai satuan makhluk yang terbang menggunakan sayap.  Di antaranya merpati, perkutut, kakak tua, nuri,  walet dan lain-lain. Berbagai satuan makhluk bersayap ini dapat diabstraksikan dengan suatu kategori yang lebih umum di atasnya yaitu "burung". Burung -- dalam abstraksi selanjutnya-- adalah salah satu kategori dari kategori yang lebih umum lagi yaitu "binatang". "Binatang" juga bagian dari kategori yang lebih umum lagi dari kategori yang lebih mencakup yaitu "makhluk hidup". Jika suatu kategori tidak ada lagi yang mengatasinya, maka itulah yang disebut dengan substansi. Dengan demikian substansi dari burung adalah makhluk hidup.

Dalam contoh di atas, tampak bahwa rasio manusia pertama-tama mengolah satuan/unit terkecil yang dilaporkan oleh indera, selanjutnya mengabstraksinya beberapa kali hingga mencapai tingkat abstraksi yang universal, umum atau kulliy. Sekali lagi, tingkat abstraksi terakhir inilah yang disebut oleh Aristoteles sebagai "substansi barang sesuatu". Dalam contoh di atas ditunjukkan bahwa substansi burung merpati adalah makhluk hidup. Aristoteles menegaskan bahwa substansi adalah tingkat abstraksi pengetahuan yang paling tinggi dari berbagai satuan empiri.

Untuk diketahui, jalan berpikir seperti demikianlah yang disebut dengan metode berpikir induktif yang selanjutnya --abat ke-19-- menjadi jalan bernalar dalam metode penelitian kualitatif. 

Burhan Bungin dalam  Post-Qualitative Social Research Methods menjelaskan bahwa alur bernalar dalam prosedur analisis data manual pada metode kualitatif-fenomenologis sebagai berikut: 

Setelah tumpukan catatan harian ditranskrip dengan baik menyerupai keadaan yang terjadi saat mengumpul data,  maka peneliti melakukan hal-hal berikut secara berkesinambungan:
1. Membuat coding, yaitu memberi kode-kode untuk menandai satuan/unit terkecil dalam data.
2. Membuat kategori. Kode-kode yang masih berantakan dikategorisasi berdasarkan kesamaan kode.
3. Menentukan tema. Kesamaan kategoris dapat membentuk suatu tema.
4. Membuat memos. Memo dibentuk berdasarkan kesamaan tema. Dengan penggunaan memos ini, peneliti dapat terlibat ketingkat abstraksi yang lebih tinggi sehingga peneliti merasakan sensitivitas tinggi terhadap makna yang terkandung dalam data.
5. Peneliti selanjutnya membangun teori. Tahap memos sebenarnya telah mengantarkan peneliti membangun teori dari data di lapangan.
6. Mengonfirmasi teori yang dibangun dengan berbagai konsep dan teori yang dihasilkan ilmuan lain sebelumnya.
7. Mengonstruksi teori. Jika telah selesai mengonfirmasi teori, maka apa pun hasilnya, peneliti dapat segera masuk ke tahap mengonstrukai teori.
8. Pekerjaan terakhir adalah memublis teori. Publis teori ini adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat dan sekali gus pertanggung jawaban peneliti di tengah komunitas ilmuan.
Allahu a'lam.


DAKWAH KEMANUSIAAN SEMESTA: PESAN MILAD AISYIYAH 107 TAHUN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته   الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله واصحابه ومن ولهه  Yth., Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah S...