Sabtu, 24 Oktober 2020

TEOANTROPOEKOSENTRIS: INTEGRASI AYAT QAULIYAH, INSANIYAH DAN KAUNIYAH


Istilah teoantropoekosentris pertama kali dimunculkan oleh Prof. Ibrahim Siregar pada saat diskusi di sela-sela pembahasan Proposal Usul Alih Bentuk IAIN Padangsidimpuan menjadi Universitas Islam Negeri pada pertengahan tahun 2020 di Jakarta. Penggunaan istilah ini kemudian didiskusikan dalam Focus Group Discussion Rencana Induk Pengembangan dan Rencana Strategis IAIN Padangsidimpuan dan seterusnya dibahas dalam rapat pimpinan. Istilah teoantropoekosentris ini meskipun tampak sebagai pengembangan istilah paradigma keilmuan UIN Yogyakarta yaitu teoantroposentris, tapi menurut Prof. Ibrahim inspirasi utama istilah teoantropoekosentris adalah Al-Quran surat Fushshilat ayat 53 dan juga ayat Al-Quran lainnya yang terkait, misalnya surat Al-Baqarah ayat 30, Ali Imran ayat 190-191, dan sebagainya. Pada Fushshilat ayat 53 tergambarkan dengan jelas bahwa sumber pengetahuan ada tiga yaitu Tuhan (wahyu), manusia, dan alam (Teo-antropo-eko). Ayat dimaksud sebagai berikut:

سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰ فَا قِ وَفِيْۤ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَـقُّ ۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?"

Kata ayatina (ayat-ayat kami) pada surat Fushshilat di atas yaitu afaq (alam semesta), anfus (manusia), al-haq (wahyu). Oleh karena itu, Fushshilat 53 ini menjadi dasar argumentasi yang kokoh bahwa sumber dan sekaligus wilayah ilmu terdiri dari ilahiyah, insaniyah dan kauniyah (Tuhan, manusia, dan alam= teoantropoekosentris).


Pengertian Teoantropoekosentris

Teoantropoekosentris bentukan dari empat kata yaitu teo, antropo, eko, sentris. Teo dari kata theos (bhs. Greek, artinya Tuhan), antropo dari kata antrophos (bhs. Greek, artinya manusia), eko dari kata eicos (bhs. Greek  artinya lingkungan/alam), dan centris dari kata centre (bhs. Inggris, artinya tengah, pusat). Secara bahasa, teoantropoekosentris artinya berpusat atau berporos pada Tuhan-manusia-lingkungan/alam. Padanan Arab teoantropoekosentris adalah ilahiyahinsaniyah dan kauniyah.

Sebagai nama bagi paradigma keilmuan UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary, teoantropoekoaentris dipahami sebagai paradigma keilmuan yang berbasis kepada integrasi ilmu-ilmu ilahiyah, insaniyah dan kauniyah. Dalam struktur keilmuan yang dikembangkan, ilmu ilahi (wahyu) menjadi sumber utama sekaligus grand theory pengembangan ilmu. Dari sisi sumber ilmu, maka ilmu yang dikembangkan UIN yang baru ini adalah ilmu yang bersumber dari ayat qauliyah, ayat insaniyah/nafsiyah dan ayat kauniyah.

Al-Quran menempati posisi tertinggi dalam pengembangan ilmu-ilmu keagamaan, ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta ilmu-ilmu kealaman. Makna posisi tertinggi di sini yaitu menjadi petunjuk atau pembimbing keilmuan mulai dari filosofi, paradigma, teori dan metodologi keilmuan.

Al-Quran---dengan demikian--- menyatukan (mengintegrasikan) semua ilmu, dan dalam operasinya mendorong penginterkoneksian bidang-bidang keilmuan.

Elaborasi Lebih Lanjut

Konsep yang lebih dulu populer di dunia Islam tentang pembagian ayat Allah dalam konteks keilmuan ini adalah ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Pembagian ini pertama kali dipopulerkan oleh Konferensi Internasional Pendidikan Islam pada 1977 di Makkah. Ayat qauliyah adalah ayat yang turun dari Allah SWT berupa wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, sementara ayat kauniyah adalah ciptaan Allah yaitu manusia dan alam semesta. Pembagian seperti ini tak obahnya memposisikan keberadaan manusia dan alam semesta dalam posisi yang sama, pada hal manusia memiliki posisi eksistensial yang amat berbeda dibanding alam semesta. Perlu diketahui bahwa Al-Qur`an sendirilah yang memosisikan secara mencolok perbedaan realitas manusia dan alam semesta ini. Jika alam disebut sebagai khalq (ciptaan), maka manusia tidak saja disebut sebagai khalq tapi juga 'abd (hamba), khalifah (pemimpin, wakil) dan sebutan-sebutan lainnya yang melambangkan keunggulan (superioritas) manusia dari makhluk lain. Kualitas-kualitas keunggulan itu misalnya teristilahkan dalam terma-terma seperti mu'mininmuttaqin, muhsinin, mukhlishin, 'ibad ar-rahman, dan lain-lain. 

Di sisi lain, Al-Qur`an menyebutkan bahwa Allah SWT memuliakan manusia. Posisi lebih mulia dari makhluk lain ini wajar sekali karena manusia yang memiliki nafs (jiwa) ini satu-satunya makhluk yang ditiupkan spirit suci (ruh) oleh Allah sehingga manusia layak menjadi khalifah Allah di muka bumi. Manusia dengan demikian, memiliki unsur jasadiah/jismiyah, nafsiah dan ruhaniah. Malaikat hanya memiliki unsur ruhiyah. Setan hanya memiliki unsur nafsiah. Sementara makhluk pisik selain manusia hanya memiliki unsur jasadiah dan nafsiah. Atribut ini menegaskan superioritas manusia terhadap makhluk lain.

Agaknya demikian inilah antara lain yang menjadi alasan, mengapa Kuntowijoyo membagi ayat Allah itu kepada tiga, yaitu ayat qauliyah, nafsiah dan kauniyah. Al-Qur`an sendiri  misalnya pada surat Fussilat ayat 53 menegaskan bahwa ayat-ayat Allah itu ada di segenap penjuru alam semesta dan pada diri manusia sendiri. Sementara di tempat lain, Allah menegaskan bahwa Al-Qur`an yang sampai kepada kita disebut juga ayat Allah yang menjadi petunjuk dan pengajaran bagi manusia.

Paradigma teoantropoekosentris menggunakan pembagian Kuntowijoyo dalam mengklasifikasi ayat-ayat Allah dengan sebutan yang sedikit berbeda yaitu ayat ilahiyah, ayat insaniyah dan ayat kauniyah. Dari sinilah kemudian diambil istilah al-ilahiyah, al-insaniyah dan al-kauniyah. Selanjutnya dengan mengambil istilah keilmuan Yunani Kuno, diterjemahkan menjadi teoantropoekosentris. Terjemahan versi Yunani Kuno ini menurut Profesor Ibrahim Siregar diharapkan semakin memudahkan upaya internasionalisasi konsep dan istilah paradigma keilmuan IAIN Padangsidimpuan ini.

Secara filosofis, ketiga bentuk ayat dimaksud tidak mungkin bertentangan karena sama-sama bersumber dari Allah Yang Maha Esa (Allahu Ahad). Fungsinya juga sama yaitu sama-sama menjelaskan Kemahabesaran Allah SWT. Oleh karena itu, jika narasi keilmuan yang keluar dari ketiga ayat yang menjadi objek ilmu tersebut tampak bertentangan, maka sesungguhnya penarasian keilmuan manusialah yang salah (something wrong).


Deduksi-Operatif Teoantropoekosentris

Deduksi-operatif lebih lanjut paradigma keilmuan ini harus tampak pada kurikulum, pembelajaran/perkuliahan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kehidupan kampus.

1. Kurikulum

Kurikulum dimaknai sebagai jalan (thariqah) yang memuat sejumlah kecakapan dan pengalaman belajar yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan belajar. Secara sederhana, kurikulum berisi pengetahuan, nilai dan keterampilan yang harus dikuasasi oleh peserta didik untuk mencapai standar kompetensi lulusan atau melampaui standar kompetensi lulusan.

Secara garis besar, kurikulum teoantropoekosentris harus berisi muatan ilmu-ilmu keagamaan ('ulum ad-diniyah), ilmu-ilmu sosial dan humaniora ('ulum al-insaniyah), dan ilmu-ilmu kealaman ('ulum al-kauniyah). Dalam operasionalnya, struktur kurikulum semua program studi wajib memiliki muatan tiga bidang besar keilmuan dimaksud. Pemuatan dalam kurikulum dapat berbentuk pendekatan interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner. Jika ketiga macam pendekatan itu dipandang sulit, maka setidaknya menggunakan proporsi keilmuan antara agama, sosial-humaniora dan kealaman, misalnya agama 10%, sosial-humaniora 15%, dan kealaman 75%. 

2. Pembelajaran/Perkuliahan

Pendidik adalah orang yang paling bertanggung jawab jalannya pembelajaran. Ia diberi tugas mengaransemen skenario pembelajaran yang aktif, efektif, menarik dan menyenangkan. Ia juga paling bertanggung jawab terhadap seduhan materi pembelajaran/perkuliahan. Dalam teoantropoekosentris, seorang dosen harus mampu menyeduh materi perkuliahan yang bermuatan integrasi atau interkoneksi ilmu-ilmu keagamaan, ilmu-ilmu sosial-humaniora, dan ilmu-ilmu kealaman.

3. Penelitian

Penelitian (riset) adalah upaya pembelajaran tingkat tinggi bagi seorang dosen atau peneliti. Disebut demikian, karena pekerjaan penelitian berorientasi memproduk ilmu pengetahuan baru atau memperivikasi ilmu pengetahuan sebelumnya. Dalam perspektif paradigma teoantropoekosentris, setiap dosen diharuskan menerapkan pendekatan interdisipliner, multidisipliner atau transdisipliner. Operasi ketiga pendekatan ini mengharuskan terjadinya integrasi atau interkoneksi ilmu agama, sosial-humaniora, dan kealaman.

Era industri 4.0 saat ini tidak relevan lagi jika penelitian hanya dengan pendekatan monodisipliner. Produksi ilmu monodisipliner tidak lagi berkonstribusi bagi peradaban manusia era industri 4.0 saat ini.

4. Pengabdian kepada Masyarakat

Pengabdian merupakan bentuk konkret tugas kenabian dan kekhalifahan sebagai operasional (penerapan) ilmu pengetahuan dan berbagai kompetensi yang dimiliki untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat. Dalam perspektif teoantropoekosentris, pengabdian ini adalah amal saleh atau ihsanisasi ipteks yang diperoleh dalam pembelajaran dan penelitian. Dengan demikian, dalam pengabdian tidak boleh berorientasi nilai material (money oriented). Tapi harus diorientasikan kepada li ibtigha'i mardhatillah (pencarian keridaan Allah). 

Bentuk-bentuk pengabdian harus mempertimbangkan nilai-nilai ilahiyah, insaniyah dan kauniyah. Dengan demikian berbagai model pengabdian mengharuskan pendekatan interdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner.

5. Kehidupan Kampus dan Budaya Akademik

Paradigma teoantropoekosentris mengamanatkan terimplementasinya nilai-nilai ilahiyah, insaniyah dan kauniyah secara simultan dalam kehidupan kampus dan budaya akademik. Untuk merealisir hal ini kampus wajib melakukan tindakan-tindakan terukur sebagai pendaratan nilai-nilai yang tathbiqiyyah (implementatif) berpijak kepada pedoman-pedoman, juknis, SOP dan kode-kode etik yang dirancang untuk mendukung penciptaan kehidupan kampus dan budaya akademik islami, moderat dan berkearifan lokal. Dalam implementasi nilai-nilai keadaban dimaksud, pimpinan kampus pada semua level harus menjadi rool model bagi civitas akademika. Allahu a'lam.*** 

__________________________________ 

Foto: Wisuda Sarjana dan Pascasarjana IAIN Padangsidimpuan 27/10/2020.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar