Jumat, 26 April 2024

ABAD KE-7 AL-QUR'AN TELAH MEMAHAMKAN MANUSIA PARADIGMA KEILMUAN TAUHIDIY

    


Pada abad ke-7,  Al-Qur'an --sesungguhnya-- telah memberi bimbingan sekaligus wawasan tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi keilmuan yang dapat menjadi basic philosophy dan paradigmatik dalam pengembangan ilmu dengan caranya yang sangat menarik. 

    Al-Qur`an diturunkan kurang lebih 23 tahun. Selama masa itu, Al-Qur`an memberi respon berbagai hal sisi kehidupan Arab Jahiliyah dan kaum Muslim Awal. Respon Al-Qur`an ditujukan kepada kepercayaan politeisme, kehidupan sosiologis, budaya, dan peradaban Arab Jahiliyah yang zhulumat (gelap) dan menuntunnya kepada kehidupan Islami yang diridhai dan diberkati. Al-Qur`an, tidak saja membimbing masyarakat Jahiliyah kepada kehidupan Islami, lebih jauh dari itu --dan hal ini menjadi tujuan Al-Qur`an-- yaitu membimbing individu-individu menjadi Muslim yang paripurna (insan kamil). Dalam perspektif pembentukan peradaban, tujuan yang hendak dicapai oleh Al-Qur`an adalah tamamu makarim al-akhlaq (kesempurnaan akhlak yang mulia). Masyarakat yang memiliki "kesempurnaan akhlak yang mulia" merupakan predikat peradaban tertinggi masyarakat Muslim yang menjadi misi dan cita-cita kerasulan Muhammad Saw.


Wawasan Ontologis

    Ontologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakikat yang ada. Dalam hal keilmuan, ontologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakikat objek pengetahuan. Secara hakiki, apa sesungguhnya objek yang dikaji oleh ilmu pengetahuan itu.

Al-Qur`an mengajarkan kepada masyarakat Arab Jahiliyah yang kemudian menerima Islam bahwa selain Al-Qur`an yang diwahyukan secara verbal sebagai ayat-ayat Allah, makhluk manusia dan alam semesta juga disebut sebagai ayat-ayat Allah. Salah satu penjelasan Al-Qur`an yang amat menarik tentang ini misalnya surat Ali Imran ayat 190: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya siang dan malam benar-benar ayat (tanda-tanda Kemahabesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir (ulul albab). Sejalan dengan maksud Ali Imran ayat 190 ini, pada surat Fushshilat ayat 53, Allah SWT memfirmankan sebagai berikut:  Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami (tanda-tanda kebesaran Kami) di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur'an) itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

    Dari penjelasan Al-Qur`an demikian inilah dapat dirumuskan bahwa ayat-ayat Allah itu bentuknya tiga macam. Pertama, ayat qauliyah, berupa kalamullah yang diwahyukan kepada Rasulillah Saw. Kedua, ayat insaniyah, yaitu dimensi psikis dan kepribadian manusia. Ketiga ayat kauniyah, yaitu langit dan bumi (alam semesta) serta sisi biologis manusia. 

    Selain Al-Qur`an menyebut manusia dan alam semesta sebagai bagian dari ayat-ayat Allah, Al-Qur`an juga menegaskan karakteristik fitrati ciptaan Allah yaitu bersujud, bertasbih, berserah diri (taslim), dan tunduk kepada Allah.

    Dengan demikian, dalam perspektif Qur`anic ontologic, semua objek ilmu pengetahuan adalah ayat-ayat Allah yang bersujud, bertasbih, berserah diri, dan tunduk kepada Allah.


Wawasan Epistemologis

Untuk diingat kembali bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang bagaimana ilmu pengetahuan diperoleh. Poin-poin pokok pertanyaan epistemologi yaitu: Apa sumber ilmu; Bagaimana proses mendapatkan ilmu; Bagaimana syarat-syarat ilmu yang benar; Bagaimana validitas (kesahihan) ilmu; dan Bagaimana hakikat ilmu.

Dalam hal ini, apakah Al-Qur'an memberi bimbingan dan wawasan epistemologis tentang ilmu? Tentu saja jawabannya "ya".

Bimbingan Al-Qur'an tentu saja tidak bersifat verbal, tapi bersifat esensial. Mari lihat misalnya tentang sumber ilmu. Al-Qur'an menjelaskan bahwa pada mulanya setiap anak manusia tidak memiliki ilmu. Tetapi Allah SWT melengkapi manusia dengan indra, akal, dan hati. Dengan kelengkapan ini, maka manusia memperoleh ilmu. (Terkait fakultas yang jadi sumber ilmu ini lihat Al-A'raf/7: 179; Al-Mulk/67: 10, 23, dll.).

Dalam konteks sumber ilmu ini, filsafat keilmuan Barat yang positivis menyebut sumber ilmu, atau lebih tepatnya fakultas yang memberi manusia ilmu adalah indra dan rasio. Al-Qur'an, pada abad ke-7 menyebutkan bahwa sumber ilmu itu adalah wahyu, indra, akal, dan qalbu. Wahyu di sini, selain berkedudukan sebagai sumber, juga menjadi pembimbing bagi indra, akal, dan qalbu dalam memperoleh ilmu pengetahuan.

Dari sisi proses, Al-Qur`an tentu saja tidaklah memberikan rumusan epistemologi pengetahuan secara konsepsional. Namun, Al-Qur`an amat jelas memberikan bimbingan prinsip/dasar (huda) agar manusia membaca, meneliti, mengamati, mendengarkan, memahami, mempelajari objek ilmu dengan serius dan cermat sehingga pengetahuan yang diperoleh benar-benar pengatahuan yang shadiq (yang benar). Upaya pencarian ilmu ini mesti bismi rabbik (dengan nama Tuhan, atau atas nama Tuhan). Dalam memahami objek ilmu ini, Al-Qur`an mengamanatkan agar memadukan akal, indra, dan hati. Hal demikian ini dituntunkan karena kebenaran yang hendak dicari tidaklah sekedar kebenaran rasional dan empirikal, tapi lebih jauh adalah kebenaran transendental.


Wawasan Aksiologis

Aksiologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang nilai atau kegunaan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, aksiologi adalah menyangkut tujuan-tujuan keilmuan. Jika dalam epistemologi dibahas tentang sumber, proses, syarat, validitas, dan hakikat ilmu, maka dalam aksiologi dibahas apa tujuan-tujuan proses epistemologis itu. Lebih jelasnya, apa tujuan pencarian ilmu itu.

Dari sisi nilai, bagaimana nilai atau kegunaan ilmu pengetahuan yang hendak dicapai oleh proses-proses epistemologis. 

Al-Qur`an, tentu saja memberi bimbingan tentang nilai ilmu pengetahuan. Nilai dimaksud dapat berupa nilai etik dan nilai estetik. Nilai etik terkait dengan benar dan salah tujuan ilmu pengetahuan. Nilai estetik terkait dengan indah dan buruk tujuan ilmu pengetahuan.

Aksiologi juga mempertanyakan tujuan akhir (puncak) ilmu pengetahuan.

Al-Qur`an menunjukkan bahwa kebenaran itu bertingkat: 'ainul yaqin, ilmul yaqin, dan haqqul yakin. Pencapaian keilmuan mesti sampai pada haqqul yaqin.

Ilmu pada tingkat kebenaran haqqul yaqin adalah kebenaran ilmu tertinggi (puncak ilmu). Ilmu demikian ini berkenaan dengan pengetahuan hamba tentang Allah SWT. Imam Ghazali menyebutnya ma'rifatullah. Istilah ini secara bahasa bermakna pengetahuan tentang Allah. Dalam ilmu Tasauf, ma'rifatullah adalah pengetahuan ruhaniah tentang Allah yang diterima dengan pendekatan 'irfani.

فَا عْلَمْ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَا سْتَغْفِرْ لِذَنْبِۢكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنٰتِ  ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰٮكُمْ

"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu." (QS. Muhammad 47: Ayat 19)*

Penting ditegaskan bahwa oleh karena semua objek adalah ayat-ayat Allah, maka pengetahuan tentang objek apa pun,  mesti berpuncak pada ma'rifatullah.

Berdasarkan penjelasan terakhir ini, maka dapat dinyatakan bahwa pembelajaran, pengkajian, dan penelitian ilmu-ilmu agama, sosial-humaniora, dan sains mesti berujung pada ma'rifatullah.

Di sisi lain, Allah SWT juga menunjukkan bahwa ilmu yang mesti dicari itu, tidak hanya ilmu yang benar, tetapi juga ilmu yang indah. Perhatikan dengan saksama firman Allah berikut: 

وَجَزٰٓ ؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚ فَمَنْ عَفَا وَاَ صْلَحَ فَاَ جْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim." (QS. Asy-Syura 42: ayat 40).

Dalam ayat Al-Qur`an di atas tampak bahwa ada tiga tingkatan kebenaran. Kebenaran tingkat pertama adalah "membalas kejahatan orang lain dengan balasan setimpal". Kebenaran tingkat kedua, memaafkan. Kebenaran tingkat ketiga adalah "berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat dimaksud". Jika kebenaran tingkat pertama dapat disebut sebagai kebenaran rasional, dan kebenaran tingkat kedua dapat disebut sebagai kebenaran etik, maka kebenaran tingkat ketiga dapat disebut sebagai kebenaran transendental. Kebenaran transendental ini adalah kebenaran yang indah.

Dengan demikian, maka pencarian kebenaran tidak cukup pada kebenaran rasional, tapi harus lanjut ke kebenaran etik, sampai kepada kebenaran estetik (kebenaran yang indah). Wallahu a'lam.

________________________

* Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com



Gambar:

Pembukaan Seminar Ilmiah di Kuttab UIN Syahada P. Sidimpuan, Sumut "Cerdas Bermedia Sosial", 21 April 2024.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar